KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Kreatifitas Pengrajin Furniture Lidi Kelapa Sawit Di Labusel

Posted by Kotapinang pada Februari 7, 2015

Pengrajin Lidi Kab. Labusel

Sudirman, 42 salah seorang pengrajin lidi kelapa sawit dari Kelompok Usaha Kerajinan Berkah Lidi Kab. Labusel sedang membentuk lidi menjadi piring unik. Kerajinan tangan berbahan dasar lidi kelapa sawit ini kini diminati masyarakat, bahkan hingga manca negara. /Foto: Deni Syafrizal Daulay/Waspada/.

Kreatifitas Pengrajin Furniture Lidi Kelapa Sawit Di Labusel

Oleh: Deni Syafrizal Daulay

LIDI biasanya hanya menjadi sampah atau bagian tidak berguna dari pohon kelapa sawit yang tumbuh subur di hampir seluruh daerah di Kab. Labuhanbatu Selatan. Siapa sangka, di tangan Sudirman, dkk, lidi disulap menjadi barang furniture bernilai ekonomis dan diminati hingga ke manca negara.

 Suasana perumahan karyawan PTPP Lonsum Sei Rumbia Estate di Dusun 84, Desa Sei Rumbia, Kec. Kotapinang, pagi itu terlihat sepi. Sebagian besar penghuni kampung pergi bekerja, hanya beberapa ibu rumah tangga yang terlihat sedang beres-beres.

Di salah satu rumah di sudut kampung itu seorang pria terlihat sibuk memilah lidi di ruang tamu rumah yang disulap sebagai tempat kerja. Dialah Sudirman, 42, pria yang selama empat tahun terakhir menekuni kerajinan lidi kelapa sawit.

Saat Waspada menyambangi kediamannya, pria kelahiran Nagan Raya tahun 1972 itu sedang membuat piring dari batangan-batangan lidi yang dijalin sedemikian rupa. Ayah dari enam orang anak ini baru saja mendapat orderan untuk membuat piring dan nampan (tempat air mineral kemasan, red). “Dulunya saya mengerjakan kerajinan furniture lidi sepulang kerja. Namun setahun terakhir PTPP Lonsum membebaskan saya dari pekerjaan dan disuruh fokus menekuni usaha ini. Jadi sekarang saya lebih leluasa mengembangkannya,” katanya kepada Waspada, Selasa (30/12/2014).

Sudirman melakoni usaha pembuatan furniturer berbahan lidi sejak 2011 lalu. Keterampilannya mengolah tulang daun kelapa sawit itu dipelajari secara otodidak ketika berlibur ke Jawa Barat. Sejak saat itu, hampir setiap hari Sudirman menghabiskan waktu luangnya membuat kerajinan tangan sebagai tambahan penghasilan. “Awalnya saya lihat kerajinan lidi kelapa di Bandung. Saya kemudian belajar membuatnya dan mengkonversi bahannya dari lidi kelapa sawit, karena di Kab. Labusel banyak sekali kelapa sawit,” katanya.

Banyaknya tanaman kelapa sawit di daerah ini membuat Sudirman tidak begitu kesulitan untuk mendapatkan bahan baku. Setiap bulan Sudirman menghabiskan 150 ikat hingga 200 ikat lidi yang dibelinya dari pemilik atau buruh panen kebun kelapa sawit seharga Rp2.500/ikat.

Sebenarnya lidi kelapa sawit dapat diperoleh Sudirman secara cuma-cuma, toh biasanya lidi hanya menjadi sampah di kebun warga. Namun karena semangat ingin membangun bersama perekenomian masyarakat, Sudirman dkk, memutuskan untuk membeli lidi-lidi tersebut. “Sekarang buruh panen juga mendapat sumber penghasilan baru berkat kerajinan ini. Lidi kelapa sawit yang biasanya mereka buang kini kami beli,” katanya.

Proses pengerjaan kerajinan lidi yang dilakoni Sudirman terbilang sederhana, namun tetap mengutamakan kreatifitas. Sebelum diolah menjadi berbagai bentuk, batang lidi yang telah kering dibersihkan terlebih dahulu dari sisa-sisa daun yang masih menempel, agar tidak mudah busuk.

Setelah bersih, lidi kemudian disortir dan disamakan ukurannya, sehingga pengerjaannya nanti lebih gampang. Barulah kemudian batang lidi dibentuk sesuai dengan ukuran dan permintaan konsumen seperti piring, vas bunga, kotak tisu, nampan, bakul, lampion, dan benda lainnya. “Kalau sudah selesai baru dilakukan pengecatan,” katanya.

Suami dari Mujila, 42 ini mengaku, dalam sehari mampu membuat 25 unit kerajinan tangan. Barang-barang hasil kreatifitasnya itu dijual dengan harga berfariasi mulai dari Rp2.500 hingga Rp50 ribu, tergantung besar kecilnya ukuran dan tingkat kerumitan dari masing-masing produk. “Saat ini produk paling murah harganya tempat sendok, sedangkan untuk produk yang paling mahal lampion,” katanya.

Sudirman mengaku tidak kesulitan untuk menjual produk kerajinan tangan tersebut, sebab agen penampung (toke) biasanya datang langsung ke rumah mereka untuk membeli. Selain itu Sudirman biasanya memproduksi barang dalam jumlah besar jika sudah ada orderan.

“Selain mulut ke mulut, PTPP Lonsum juga membantu pemasaran produk-produk kami. Selain itu produk kami sering dipamerkan baik ajang lokal maupun internasional, seperti Pameran Teknolgi Tepat GUna di Parapat pada 2013, HUT Koperasi di lapangan Benteng Medan pada 2014, dan di Australia pada 2014. Ternyata responnya bagus,” katanya.

Selain menjual kepada agen dan pemesan, Sudirman biasa memasarkan produk-produknya itu ke sejumlah daerah di Kab. Labusel, Kab. Labuhanbatu, Kota Medan, dan Propinsi Riau. Sebenarnya kata Sudirman, produk-produk tersebut cukup diminati, bahkan manca negara, namun mereka masih mengalami kendala terhadap jumlah produksi. “Kemarin investor Jepang mengorder dalamm jumlah besar, tapi terpaksa kami tolak, karena mereka meminta pakai kontainer. Sedangkan hasil produksi masih sedikit,” katanya.

Kini Sudirman tidak sendiri, berkat ketekunannya mengembangkan kerajinan lidi, sekarang sudah ada 10 pengrajin lain yang bergabung bersamanya di bawah bendera Kelompok Usaha Kerajinan Berkah Lidi. Dari kelompok ini, Suriman dkk setiap bulannya mampu memproduksi 1.200 unit kerajinan tangan dengan omzet rata Rp6 juta hingga Rp10 juta.

Karenanya pada 2015 ini Sudirman optimis untuk menjajal pasar internasional, sebab sejumlah pengrajin baru lainnya di lima kecamatan di Kab. Labusel yakni di Desa Pangarungan, Desa Sosopan, Desa Simatahari, dan beberapa desa lainnya sudah berhasil dibinanya. Apa lagi kata dia, kini Pemkab Labusel pun sudah menaruh perhatian kepada mereka. “Untuk pembinaan Pemkab mulai membantu, kami diberikan stan di Pusat Jajanan dan Kerajinan Kabupaten di Blok IX, Desa Sisumut, Kec. Kotapinang. Sebab selama ini saya hanya ditopang PTPP Lonsum,” katanya.

Lulusan salah satu pondok pesantren di Nagan Raya ini menyebutkan meski belum maksimal, namun hasil dari kerajinan tangan tersebut cukup membantu perekonomian keluarganya dan warga lainnya di Dusun tempatnya bermukim. Dari penghasilan itu pula dia dapat menyekolahkan enam anaknya hingga beberapa sudah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). “Dua anak saya sudah tamat SMA,” katanya.

Bagi Sudirman pekerjaan barunya itu cukup menjanjikan, karena selain cara kerjanya mudah dan bahan bakunya tidak memerlukan lahan sendiri, kerajinan lidi ini dilakoninya sebagai upaya untuk membuka peluang ekonomi baru. Sudirman yakin, suatu saat nanti Kab. Labusel akan dikenal dengan kerajinan lidinya. “Apa lagi saat ini pemerintah sedang gembar-gembor tentang MEA, ini merupakan peluang emas bagi kerajinan lidi,” katanya. (*)

 Dikutip dari Harian Waspada edisi, Minggu (7/2/2015) dan telah digubah seperlunya.

Kunjungi: http://www.epaper.waspadamedan.com

4 Tanggapan to “Kreatifitas Pengrajin Furniture Lidi Kelapa Sawit Di Labusel”

  1. Octi said

    Bisa minta alamat dan no telp/ hp perajinnya….

  2. newpassword said

    klu jual sama bpk, brp harga per kilo lidi kelapa sawit yang kering ?

  3. Mr. Lee said

    saya sedang berminat mencari produksi lidi kelapa sawit (saya di daerah Riau)
    bagi yang serius silahkan menghubungi saya ke nomor 085271540008. Mr. Lee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: