KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Dundung, Berkah Di Balik Banjir Sungai Barumun

Posted by Kotapinang pada Januari 25, 2015

Seorang pedagang Dundung sedang menuang ikan dari takaran. Ikan Dundung menjadi alternatif pencaharian warga disaat sungai Barumun meluap.

Seorang pedagang Dundung sedang menuang ikan dari takaran. Ikan Dundung menjadi alternatif pencaharian warga disaat sungai Barumun meluap.

Dundung, Berkah Di Balik Banjir Sungai Barumun
Oleh: Deni Syafrizal Daulay
MELUAPNYA sungai Barumun dalam sebulan terakhir tidak hanya membuat nestapa bagi ribuan warga di empat kecamatan di Kabupaten Labusel yang rumahnya terendam. Di balik duka itu, ikan Dundung hadir sebagai berkah bagi warga untuk tambahan penghasilan.

Sepintas ikan Dundung mirip belut, bentuk tubuhnya memanjang layaknya sidat (anak belut), namun ukurannya lebih kecil, yakni panjang berkisar 4 hingga 5 centi meter dan diamater lebar tubuhnya sekira 2 mili meter. Warnanya hitam kecokelatan dan di tubuhnya terdapat garis hitam dan putih kekuningan.
Dundung merupakan spesies ikan istimewa yang ada di sungai Barumun. Konon katanya, ikan ini hanya didapati di aliran sungai Barumun, khususnya Kotapinang, karenanya orang di luar daerah kurang mengenal keberadaannya.
Salah satu yang menjadikan ikan Dundung ini begitu istimewa yakni kemunculannya di sungai Barumun hanya ketika banjir benar-benar besar. Menurut kepecayaan masyarakat bantaran Barumun masa lampau, kemunculan ikan ini memberi pertanda bahwa banjir telah mencapai puncaknya.
Seperti banjir yang telah menyebabkan ribuan warga di bantaran sungai yang membelah Kab. Labusel ini dalam sebulan terakhir misalnya. Sejak, Rabu (24/12/2014) malam lalu, Dundung mulai bermunculan dan suatu kebetulan luapan air sungai pun berhenti dan bertahan, bahkan saat ini telah surut. Warga pinggiran sungai yang umumnya nelayan pun mulai berburu Dundung.
“Sudah dua malam ini Dundung bermunculan. Lumayanlah, hasil tangkapan ini dapat dijual untuk menambah uang, karena selama banjir kami tidak dapat mencari nafkah,” kata Jamal, salah seorang korban banjir di perkampungan Labuhan Lama, Kel. Kotapinang, Kec. Kotapinang, Kamis (25/12/2014).
Penangkapan Dundung dilakukan warga pada malam hari. Hanya bermodalkan peralatan tradisional sederhana, yakni dulang kecil dan lenggayan (dulang besar) mereka mengumpulkan Dundung untuk dikonsumsi dan sebagian lainnya dijual sebagai tambahan penghasilan.
Ikan ini biasanya berada di aliran air yang cukup deras, karena Dundung hidupnya melawan arus. Dalam semalam, rata-rata warga mampu mendapatkan satu timba ikan atau sekitar 25 mangkuk takar.
Pagi hari, Dundung tersebut dijual warga dengan memanfaatkan pinggiran jembatan sungai Barumun sebagai lapak. Dundung-dundung ini mampu hidup hingga berjam-jam dengan air yang sangat minim. “Hanya tinggal satu mangkuk yang ada, tadi banyak yang membeli,” kata Jamal.
Dundung cukup laris diburu masyarakat untuk dikonsumsi, sebab bukan saja rasanya yang enak dan gurih, ikan ini juga jarang didapat pada hari-hari biasa. Dundung biasanya dijual seharga Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per satu takaran (mangkuk pencuci tangan).
Setiap orang biasanya membeli paling sedikit dua takar untuk diolah dan dijadikan makanan. Meski demikian ada juga yang membeli dalam jumlah banyak untuk diolah, sehingga lebih tahan lama, sebab tahun berikutnya belum tentu ikan aneh ini muncul lagi.
Hingga kini belum ada kajian secara khusus tentang dari mana asal muasal Dundung dan bagaimana ikan ini ber-reproduksi, namun diperkirakan induk Dundung hidup di hulu sungai dan bertelur di muara. Karenanya, setiap kali banjir, Dundung melawan arus dari hilir (muara) untuk kembali ke habitatnya di hulu.
Meski ukurannya sangat kecil, masyarakat di Labusel khususnya Kotapinang dan sekitarnya meyakini ikan ini halal untuk dikonsumsi. Tidak mengherankan jika musim Dundung menjadi berkah bagi masyarakat pinggiran Barumun yang diterpa banjir, karena ikan tersebut menjadi alternatif mata pencaharian bagi mereka.
Bagi warga asli Kotapinang dan sekitarnya Dundung bukan barang aneh, bahkan sejumlah warga Kotapinang yang berada di perantauan selalu rindu untuk mengkonsumsi ikan ini. Tidak mengherankan kalau sedang musim, banyak warga berebut untuk membeli Dundung. “Kabarnya sudah empat hari muncul, tapi saya baru mendapatkannya sekarang, sebelumnya selalu kehabisan,” kata Heri Nasution, warga Jln. Kalapane, Kel. Kotapinang, Kec. Kotapinang. (*)

Dikutip dari Harian Waspada Edisi Sabtu, 27 Desember 2014 dengan gubahan seperlunya.

Satu Tanggapan to “Dundung, Berkah Di Balik Banjir Sungai Barumun”

  1. Poriyama Situmorang said

    Ikan dundung bisa dimakan ya..??? enak gak ya?? heheeee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: