KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Melihat Tradisi Marpangir Masyarakat Kabupaten Labuanbatu Selatan

Posted by Kotapinang pada Juli 14, 2013

Tradisi Marpangir Di Kabupaten Labuhanbatu Selatan

Tradisi Marpangir Di Kabupaten Labuhanbatu Selatan

Melihat Tradisi Marpangir Masyarakat Kab. Labuanbatu Selatan

Oleh: Deni Syafrizal Daulay

SELAIN ziarah ke makam sanak keluarga, tradisi unik menyambut datangnya bulan Ramadan yang masih dipertahankan sejumlah masyarakat di Kab. Labusel adalah Marpangir atau mandi pangir. Ritual mandi dan keramas menggunakan air rebusan rempah-rempah sehari menjelang datangnya bulan suci Ramadan ini hingga kini masih dilakoni warga Muslim khususnya etnis Melayu, Mandailing, dan etnis Jawa di daerah ini.
Selasa (9/7/2013) pagi aktifitas warga menyambut datangnya Ramadan 1434 H kian mantap, terlebih pemerintah telah mengumumkan bahwa 1 Ramadan jatuh pada, Rabu 10 Juli 2013. Selain melakukan ziarah dan membersihkan makam sanak-saudara dan membersihkan musala dan masjid tempat melaksanakan salat fardhu dan salat tarawih, warga di daerah ini juga disibukkan dengan mempersiapkan rempah-rempah untuk Marpangir.
Fitria Santi Harahap misalnya, perempuan warga Jln. Kalapane, Kel. Kotapinang, Kec. Kotapinang ini sejak pagi mulai mempersiapkan segala kebutuhan untuk menyambut bulan puasa. Selain mempersiapkan makanan, ibu satu anak ini juga mempersiapkan rempah-rempah untuk Marpangir. “Setiap tahun menjelang Ramadan tradisi Marpangir kami lakukan bersama keluarga. Tidak ada harapan yang aneh-aneh kecuali untuk membersihkan diri menyambut datangnya Ramadan. Sebagian besar warga di daerah ini juga melakukan tradisi ini,” katanya.
Bagi perempuan yang akrab disapa Santi ini, mendapatkan rempah-rempah pangir tidaklah sulit. Selain dapat membuat racikan sendiri, ramuan berupa daun pandan, daun dan buah jeruk purut, kembang, potongan ilalang, sereh wangi, bunga pinang, daun nilam, batang kapellon dan beragam rempah lainnya ini dapat dengan mudah dibeli di Pasar Inpres Kotapinang dan pasar tradisional lainnya di lima kecamatan di Labusel. Harganyapun terbilang murah. Satu ikat rempah pangir dijual Rp1000. Untuk keperluan Marpangir satu rumah tangga cukup membeli tiga ikat rempah pangir.
Pada siang hari ramuan rempah direbus menggunakan air, sehingga menjelang sore, air pangir tidak terlalu panas untuk dimandikan. Jumlah air rebusan disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga yang akan Marpangir. Semakin banyak anggota keluarganya, maka semakin banyak pula air rebusannya. “Kalau merebusnya kepagian air terlalu dingin,” katanya.
Sebagian warga melakukan ritual Marpangir di sungai seperti sungai Barumun, sungai Kanan, dan aek sampuran di lokasi wisata Padayangan Indah, namun banyak pula yang melakukan tradisi ini di rumah. Waktunyapun berbeda-beda, ada yang memilih mandi sebelum melakukan ziarah kubur, ada pula sepulang berziarah.
Rafiun Heri Nasution, salah seorang masyarakat adat Melayu Kotapinang yang masih mempertahankan tradisi Marpangir mengatakan, mandi pangir yang dilakoni masyarakat tidak ubahnya mandi besar (zanabah) untuk mensucikan diri dari hadas besar. Doa dan niatnyapun sama, hanya saja setelah berdoa warga biasanya menambahkan niat untuk melaksanakan puasa Ramadan selama 30 hari penuh dan air mandian yang digunakan adalah pangir.
Mereka membersihkan tubuh dengan pangir, membasuh rambut (keramas) sampai halus dengan harapan hanyutlah semua hadas dan najis bersama air mandian tersebut. Usai mandi, tubuh menjadi wangi dan siap untuk memasuki satu bulan suci dalam Islam, yaitu Ramadhan. “Niatnya hanya mensucikan diri, rempah-rempah yang digunakan hanya untuk memberikan kesan wangi dan bersih,” katanya.
Usai Marpangir, biasanya masyarakat di daerah ini akan melakukan punggahan (naik ke bulan yang suci dengan kegiatan kenduri keluarga) yang kemudian dilanjutkan dengan salat Tarawih malam pertama di musala atau di masjid. Meski banyak kontro-versi menyangkut kegiatan yang dinilai bid’ah ini, namun sebagian besar warga tetap mempertahankan tradisi yang dikenal secara turun-temurun tersebut.
Menurut mereka Marpangir memberikan kesan bersih dan wangi, selain itu kegiatan mandi ini juga menjadi semacam motivasi sebagai kesiapan diri melaksanakan ibadah. Selain di Kab. Labusel, Marpangir dikenal hampir di seluruh daerah di Sumatera Utara. “Niatnya baik hanya untuk membersihkan anggota tubuh saja, bukan menjadikannya sebagai ritual-ritual khusus. Makanya kegiatan ini tetap dilaksanakan,” kata Rafiun. (*)

Dikutip dari Harian Waspada Edisi Rabu 10 Juli 2013 dengan gubahan seperlunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: