KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Kerja Keras Pencari Pakkat Di Labusel

Posted by Kotapinang pada Januari 26, 2012

Pencari Pakkat di Labusel

Pencari Pakkat di Labusel

Kerja Keras Pencari Pakkat Di Labusel
OLEH: DENI SYAFRIZAL DAULAY
PUCUK rotan muda (pakkat) yang biasanya hanya jadi tumbuhan liar di bantaran sungai Barumun yang membentang di Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) ternyata dapat mendatangkan rejeki. Lihat saja, di tangan Nuraman Hasibuan, 47, pakkat dimanfaatkan menjadi sebuah mata pencaharian selama bertahun-tahun. Dari pakkat pula, Nuraman mampu membiayai hidup keluarga dan menyekolahkan enam anaknya.
Minggu (15/1) petang itu Nuraman bersama lima orang warga Dusun Sorik, Desa Bange, Kec. Torgamba, Kab. Labusel menyusur dari arah hulu sungai Barumun menumpangi tiga sampan bermesin (boat). Di dalam sampan, terlihat sarat dengan muatan pakkat yang sudah diikat dan terususun rapi.
Pakkat bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Labusel. Sejak lama pucuk rotan ini dijadikan lalapan dan sejumlah masakan khas di daerah ini. Rotan sebenarnya tumbuhan liar yang pembiakannya bukan sengaja ditanam. Tumbuhan ini banyak terdapat di sepanjang bantaran sungai Barumun dan sungai Kanan. Rotan tua biasanya diambil warga untuk dijadikan tali atau dijual sebagai kebutuhan furniture, sementara pucuknya yang masih muda yang akrab disebut pakkat dikonsumsi sebagai lalapan.
Nuraman dan teman-temannya yang umumnya wanita masih menenteng peralatan khusus yang biasa dipakai untuk mencari pakkat, yakni parang dan galah (potongan bambu sepanjang 1,5 meter yang diujung terdapat pengait). Mereka baru saja pulang dari hutan mencari pakkat. Hampir setiap hari sejak pagi Nuraman dan kawan-kawan mencari pakkat yang banyak terdapat di hutan sepanjang bantaran sungai Barumun dan anak-anak sungai yang bermuara ke sungai terbesar di Kabupaten Labusel ini seperti sungai Siuppat dan danau Siuppat.
Setelah sampan menepi, mereka mendarat dan menurunkan pakkat dari dalam perahu untuk dibawa pulang ke rumah. Nuraman meletakkan ikatan pakkat di atas kepalanya yang sudah dibebat dengan kain. Matanya terus memerhatikan jalan agar tidak terpeleset dan terjatuh. Seperti biasa, hari ini Nuraman berhasil mendapat dua ikat pakkat dan suaminya Idris Harahap, 49, juga mendapatkan dua ikat pakkat, demikian juga teman satu kelompoknya.
”Setiap kali mengambil pakkat di hutan satu orang bisa mendapat dua ikat pakkat,” kata wanita paruh baya yang tak pernah mengenyam pendidikan itu. ”Mencari pakkat di hutan lumayan menguntungkan. Tapi kami pergi mencari pakkat sesuai orderan. Kalau lagi diminta ya kami turun, tapi kalau pakkat masih bertahan ya kami libur,” lanjutnya.
Agar bekerja mencari pakkat terasa lebih menyenangkan, biasanya pekerjaan ini dilakoni warga dengan berkelompok. Satu kelompok biasanya terdiri dari enam orang. Bagi yang bersuami, biasanya mencari pakkat dilakukan bersama-sama. Namun disaat suami mereka bekerja menyadap karet, aktivitas mencari pakkat hanya dilakukan kaum wanita.
Nuraman dan warga lainnya sudah menggeluti pekerjaan ini selama 18 tahun. Dia mengungkapkan, awal mula dia bekerja sebagai pencari pakkat sejak orangtuanya mengenalkan cara mencari pakkat. Sejak saat itu, hampir setiap hari Nuraman menghabiskan hari-harinya mencari pakkat sebagai sumber penghasilan.
Untuk mencari pakkat, Nuraman dan teman kelompoknya biasa pergi ke hutan sekira pukul 6.00 WIB. Menuju lokasi pengambilan pakkat harus ditempuh menggunakan boat selama lebih kurang 3 jam dan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 30 menit.
Dahulu kala, pakkat dengan mudah didapat di bantaran sungai Barumun, namun sejak terjadinya peralihan fungsi lahan menjadi kebun kelapa sawit, membuat pakkat semakin langka. Lalapan lunak yang berasa pahit itu kini hanya ada di hutan-hutan yang masih tersisa di pinggiran sungai.
Setibanya di lokasi pencarian pakkat, mereka menggunakan galah untuk mengait pucuk rotan, lalu memotong ujungnya yang masih muda menggunakan parang. Karena sudah terbiasa, potongan-potoangan pakkat biasanya merata sepanjang lebih kurang 75 Cm. Meski terbilang sederhana, pekerjaan ini memerlukan kehati-hatian agar tidak tertusuk duri pakkat yang cukup berbisa.
Setelah pakkat didapat kemudian durinya dibersihkan lalu dikumpul. Untuk memudahkan membawanya, pakkat tersebut diikat menggunakan rotan. Setiap satu ikatan pakkat terdiri dari 250 batang atau ruas. Untuk menghasilkan dua ikatan pakkat, Nurahma biasanya memerlukan waktu lebih kurang empat jam.
Setelah pakkat dikumpulkan kemudian dimuat ke dalam perahu untuk dibawa ke rumah. Nurahma mengaku tidak kesulitan untuk menjual pakkat tersebut, sebab agen penampung (toke) biasanya datang langsung ke rumah mereka untuk membeli. Satu ikat pakkat biasanya dibeli oleh toke seharga Rp45 ribu, sehingga dalam sehari rata-rata Nurahma berpenghasilan Rp90 ribu. Oleh toke, pakkat tersebut kemudian dikumpul di penampungan di Pekan Langgapayung, Kel. Langgapayung, Kec. Seikanan. Setelah dikumpul, pakkat-pakkat tersebut kemudian didistribusikan ke pasar tradisional yang ada di Labusel serta sejumlah daerah lain seperti Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Medan, Kisaran, dan beberapa daerah di Provinsi Riau.
Nurahama mengaku, dalam seminggu, hanya lima hari dirinya mencari pakkat. Namun khusus bulan Ramadan biasanya permintaan tinggi, sehingga dia terpaksa setiap hari mencari pakkat. “Kita mencari pakkat sesuai pesanan agen. Kalau katanya mau beli ya kita cari,” tambahnya.
Dijelaskan, pakkat tersebut biasanya diolah warga sebagai sayur makan, dimasak holat, gulai, di bakar, ataupun dilalap mentah. Lalapan khas ini umumnya jadi kuliner kegemaran masyarakat Sumatera Utara khususnya etnis Mandailing, karenanya sampai saat ini pakkat masih laris dijual di pasaran. “Makanya di Labusel ini pakkat juga cukup digemari,” katanya.
Nurahma menyebutkan, hasil dari mencari pakkat tersebut cukup membantu perekonomian keluarganya dan warga lainnya di Dusun tempatnya bermukim. Dari penghasilan itu pula Nurahma berhasil menyekolahkan enam anaknya hingga lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). “Sekarang anak saya yang masih sekolah tinggal dua, yang satu SMA dan satu SMP,” imbuhnya.
Meski pekerjaan ini cukup berat dan berisiko, namun Nurahma mengaku senang menjalankan aktivitas yang sudah diwariskan leluhur mereka secara turun-temurun itu. Selain memang mencari pakkat lebih mudah karena tidak memerlukan lahan sendiri dan melakukan penanaman, kegiatan ini dilakoninya sebagai upaya untuk mempertahankan kuliner khas yang memperkaya budaya masyarakat Labusel. “Saya senang menjalankan pekerjaan ini. Dan pakkat ini juga merupakan bagian dari budaya masyarakat di daerah ini,” pungkasnya.
Berdasarkan penelusuran Waspada, selain di Desa Bange, kegiatan mencari pakkat juga dilakoni warga yang bermukim di bantaran sungai Barumun lainnya seperti di Desa Sisumut, Kelurahan Kotapinang, Desa Pasir Tuntung, Desa Simongi, Desa Padangri, Desa Teluk Rampah, Desa Hajoran, Desa Sampean dan sejumlah desa lainnya. (*)

Dikutip Dari Harian Waspada, Edisi, Jumat (20 Januari 2012)

2 Tanggapan to “Kerja Keras Pencari Pakkat Di Labusel”

  1. Benny said

    Bro, bgmna caranya aku mengirim tulisan disini agar dimuat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: