KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Aktivitas Nelayan Kagetan Di Sungai Barumun Pasca Banjir

Posted by Kotapinang pada Januari 18, 2012

Nelayan Sungai Barumun

Nelayan Sungai Barumun

Aktivitas Nelayan Kagetan Di Sungai Barumun Pasca Banjir

OLEH: DENI SYAFRIZAL DAULAY

BANJIR bagi sebagai orang merupakan musibah yang tidak memberikan keuntungan apapun. Namun tidak demikian bagi warga yang bermukim di bantaran sungai Barumun, musibah banjir yang melanda merupakan berkah yang patut disyukuri, karena pasca banjir, beragam jenis ikan akan muncul di sungai tersebut dan jadi sumber penghasilan baru bagi warga.
Sabtu (14/1) pagi sekira pukul 5.00 WIB udara masih terasa dingin, rembulan pun belum benam diperaduannya, namun sejumlah warga di perkampungan Labuhan Lama, Kel. Kotapinang, Kec. Kotapinang, Kab. Labuhanbatu Selatan, mulai berdatangan ke sungai Barumun. Mereka adalah warga yang bermukim di bantaran sungai yang mendadak menjadi nelayan kagetan mencari ikan-ikan kecil yang biasanya bermunculan di sungai Barumun usai banjir. Perlatan yang digunakan pun tak banyak, hanya sebuah lenggayan (dulang besar) untuk menangkap ikan dan ember untuk mengumpulkan ikan hasil tangkapan.
Setelah menaruh ember di tepi sungai, nelayan kagetan ini turun ke dalam air hingga lutut mereka masuk ke dalam air. Untuk mendapatkan ikan pun tidak begitu sulit, mereka cukup mengayuhkan dulang di pinggir sungai lalu mengikuti arah arus air. Saat dulang diangkat kepermukaan, di dalamnya sudah terdapat puluhan ekor ikan.
Ikan yang didapat jenisnya beragam mulai dari anak ikan Paitan, Labosang, hingga Sipuntung. Namun diawal-awal air sungai surut biasanya ikan yang paling banyak adalah Sipuntung. Karena rasanya yang enak dan gurih, Sipuntung cukup laris saat dijual. Oleh warga biasanya ikan beebentuk pipih berwarna putih dengan panjang tubuh rata-rata 5 Cm hingga 10 Cm ini dikonsumsi dengan cara digoreng kering, disambal goreng, dan ada juga yang di masak taucho.
“Selama dua minggu terakhir kami warga sini mulai mencari ikan, karena air sungai baru saja surut setelah dua bulan air sungai naik-turun. Karena ikannya banyak, warga bergerombolan datang mencari ikan,” kata Muhammad Syarifuddin, 33, salah seorang nelayan di tempat itu.
Disaat ikan sedang banyak-banyaknya, jumlah nelayan yang mencari ikan di sungai Barumun mencapai puluhan nelayan. Dalam sehari nelayan kagetan tersebut melakukan pendulangan sebanyak tiga kali yakni pagi hari, siang, dan sore hari. Namun ikan paling banyak didapatkan pada pagi hari. Dalam sekali pendulangan, seorang nelayan biasanya menghabiskan waktu hingga empat jam.
Setelah lebih kurang empat jam mendulang, ikan yang terkumpul di ember mulai banyak. Dalam sehari seorang nelayan biasanya dapat menghasilkan sekira 5 Kg hingga 10 Kg ikan dengan penghasilan rata-rata Rp75 ribu hingga Rp150 ribu. Ikan yang sudah dikumpulkan biasanya dijual kepada ibu-ibu yang juga warga setempat yang telah menggelar lapak dagangannya di atas jembatan sungai Barumun. Layaknya sebuah etalase, ikan-ikan tersebut di letakkan di lapak berukuran 1×2 meter dengan tenda alakadarnya. Di sinilah warga yang melintas akan membeli ikan-ikan tersebut.
Setiap kilogram ikan dari nelayan dihargai Rp13 ribu, setelah itu ikan akan dijual kembali seharga Rp18 ribu/Kg kepada pembeli. Sebagian nelayan lainnya ada juga yang memilih menjual langsung ikan hasil tangkapannya ke rumah-rumah warga, dengan harga jual lebih mahal. “Uang hasil penjualan ikan lumayanlah untuk menambah beli beras dan uang sekolah anak,” kata Darwinsyah nelayan lainnya.
Biasanya, musim ikan akan berlangsung selama dua minggu pasca banjir. Aktivitas nelayan kagetan ini baru akan berakhir setelah air sungai normal kembali dan mereka kembali pada aktivitas semula yang rata-rata bekerja sebagai penarik becak bermotor (betor).
Banjir sungai Barumun memang memiliki sejumlah keunikan. Bukan saja masalah debit airnya yang besar, namun spesies ikan yang muncul pasca banjir juga terbilang istimewa dan langka. Jika banjir yang terjadi cukup besar, biasanya disaat surut akan muncul ikan Dundung dan Iccor.
Ikan ini menjadi sangat khas, karena kemunculannya hanya pada saat banjir dan banjirnyapun harus benar-benar besar. Namun sudah tiga tahun belakangan spesies ikan yang bentuknya menyerupai belut dan berukuran sebesar anak korek api ini tidak muncul. “Udah tiga tahun Dundung nggak muncul. Karena banjirnya nggak terlalu besar. Terakhir kali Dundung dan Iccor muncul pada 2009 lalu,” kata Darwin. (*)

Dikutip dari Harian Waspada, Edisi, Rabu 18 Januari 2012 klik http://epaper.waspadamedan.com/

Satu Tanggapan to “Aktivitas Nelayan Kagetan Di Sungai Barumun Pasca Banjir”

  1. POETRA024 said

    Dari yang saya baca kejadian ini sama persis dikampung halaman saya di Jambi, yaitu di Kumpeh,
    Pada tahun 2009 lalu Jambi tepatnya di Kumpeh banjir besar.Meluapnya air sungai Batang Hari tidak terduga&setelah surut ikan kecil pun banyak bermunculan.
    Like This.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: