KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Istana Kota Bahran Di Labusel Kian Tak Terurus

Posted by Kotapinang pada September 28, 2011

Istana Kota Bahran

Istana Kota Bahran

Istana Kota Bahran Di Labusel Kian Tak Terurus

Oleh: Deni Syafrizal Daulay
KUMUH, kotor, dan tidak terurus, itulah kesan pertama yang tersirat saat Saya menyambangi puing Istana Kota Bahran di Jl Ahmad Yani, Kotapinang, Kabupaten Labusel, Minggu (7/8). Namun siapa sangka, di balik kondisi memprihatinkan itu, istana peninggalan Kesultanan Kotapinang itu menyimpan sejarah tentang kejayaan bangsa Melayu di Labusel masa lalu.
Saat ini kondisi fisik istana hanya tinggal 20 persen yang masih utuh. Namun hal itu tak mengurangi kesan gagah yang terpancar dari gedung yang sudah tak beratap, tak berlantai dan sebagian dindingnya telah rompal itu. Padahal menurut sejumlah warga, pada tahun 1980-an, kondisi istana tersebut masih terlihat menarik meski beberapa bagiannya sudah hancur. Namun kini hampir seluruh fisik bangunan rusak.
Menurut pengamatan Saya, dinding luar istana yang konon merupakan istana termegah yang dimiliki Kesultanan Kotapinang itu tampak kusam dan ditumbuhi lumut. Sedangkan dinding dalam istana yang bercat warna putih juga mengelupas di banyak tempat dan berjamur.
Selain itu, di beberapa dinding istana yang dibangun pada masa kejayaan Kesultanan Kotapinang tersebut terdapat banyak coretan hingga merusak keindahannya. Bahkan, beberapa material bangunan yang dulunya masih utuh tak terlepas dari keusilan tangan-tangan jahil yang merusaknya.
Pada bagian dalam istana yang dulunya dijadikan tempat keluarga besar sultan untuk menggelar kegiatan pemerintahan itu kini penuh dengan sampah. Bahkan di satu sudut istana yang menghadap ke timur kini telah berubah menjadi tempat bermain dan di bagian utara digunakan warga yang bermukim di sekitar istana sebagai jemuran dan kandang ternak. Kondisi ini membuat istana yang sangat kokoh itu terlihat jorok.
Kekohann bangunan tua ini sudah teruji. Peledakan yang dilakukan pada masa revolusi sosial yang terjadi sekira tahun 1946 tidak sanggup melenyapkan gagahnya istana tempat Seripaduka yang Dipertuan Kotapinang Musthafa Perkasa Alamsyah XII bertahta tersebut.
Tengku Irvan Bahran bin Mohammad Anwar seorang di antara cicit Sultan Musthafa Perkasa Alamsyah yang kini menetap di Jakarta  mengatakan, istana Kota Bahran dibangun oleh Sultan Musthafa Perkasa Alamsyah bin Ismail sekira tahun 1930-an dan bangunan ini diresmikan pada tahun 1934. Istana Kota Bahran merupakan istana paling baru dan merupakan istana terakhir serta termegah yang dibangun oleh Kesultanan Kotapinang. Dalam tradisi Kesultanan Kotapinang, setiap raja baru akan membuat istana baru sebagai singgasananya. “Istana lama berada si seberang sungai Barumun,” katanya.
Menurutnya, kemegahan istana Kota Bahran itu dibangun dari hasil sektor pertanian terutama tanaman karet yang pada saat itu mempunyai nilai dagang yang sangat bagus. Dalam mendesain istana ini, Sultan Mustafa mengadopsi gaya Mediterranean pada masa itu. Inspirasi itu didapatkannya ketika bersekolah di Mesir.
Namun usia istana Kota Bahran terbilang singkat, pada masa revolusi sosial yang terjadi sekitar tahun 1946 bangunan tersebut dihancurkan. Tak hanya meluluh lantakkan istana, dalam peristiwa itu, Tengku Long Mustafa anak tertua dari Tengku Mustafa juga ikut terbunuh walaupun beliau sudah menjadi wedana (Pejabat Republik Indonesia) di Rantauprapat. “Para pembunuh mengatasnamakan revolusi walaupun yang sebenar-benarnya mereka ingin merampas harta benda tanpa mengadili atau menanyakan, langsung membunuh. Ini disebabkan kurangnya informasi pada zaman itu sehingga kejahatan sangat mudah terjadi dengan mengatasnamakan sesuatu alasan,” kata Irvan.
Beruntung kata dia, ketika itu ayah, nenek dan pamannya dapat menyelamatkan diri dan lari ke Pulau Penang (Malaysia). Menurutnya, hingga kini, dua orang anak Sultan Mustafa masih hidup satu orang menetap di Amerika dan seorang lagi bermukim di Jakarta.
Mantan Gubernur Sumut Syamsul Arifin ketika berkunjung ke Kabupaten Labusel pada 2009 lalu menyarankan agar istana ini dipugar kembali. Menurutnya, keunikan arsitektur istana itu sangat menarik wisatawan untuk berkunjung. Mantan Pj Bupati Labuhanbatu Selatan Sabrina sebelumnya pun pernah berjanji akan mengembalikan bentuk Istana Kota Bahran pada gedung kantor Bupati Labuhanbatu Selatan yang akan dibangun. Sebab untuk mengembalikan istana tersebut kebentuk aslinya cukup sulit. Namun sampai kini rencana menduplikasi arsitektur istana tersebut belum terealisasi. (*)

Dikutip dari Harian Waspada Edisi, Sabtu (10/9/2011)

27 Tanggapan to “Istana Kota Bahran Di Labusel Kian Tak Terurus”

  1. Che Hutabarat said

    Bangsa yang besar adalah bangsa yang salalu menghargai sejarahnya…
    perbaikan gedung itu secepatnya dilaksanakan…semak semak yang ada
    di sekelilinnya segera dibersihkan….dan di jadikan taman rekreasi keluarga….
    aq yakin..setelah tempat itu bersih,,,tempat itu akan menjadi tempat yang asik buat kluarga untuk bersantai….
    sekaligus akan tempat itu akan megingatkan sejarah ksultanan,,,
    dan akan menumbuhkan semangat kedaerahan kota pinang….

  2. Salim S Ag said

    kalau untuk mengembalikan arsitek dan design ataupun duplikasinya dilokasi yang sama, tentu banyak warga yang mendambakannya…, intern dan ekstern…, masalah fungsi….,untuk dijadikan sebagai kantor Bupati dan sejenisnya, hal ini yang membuat kontroversi, mengingat sejarah kelam yang bibeberkan beberapa tokoh..yg jelas sumbernya,…
    Tapi kalau dijadikan objek wisata untuk aset Daerah…, Cukup menarik dan menjanjikan…buat LABUSEL…
    Hal ini juga membuatkit ingat akan sejarah Kotapinang yang Pernah Jaya..

  3. amin pohan said

    tidak hanya sekedar pemugaran saja yang kita butuhkan, namun yang paling penting dalam pemekaran labusel adalah pembentukan identitas, boleh saja kita adopsi bentuk istana sebagai simbol identitas labusel,

  4. do dho said

    ” tolong tuan tuan dan puan puan yang ber uang komfirmasikan pada pemerintah…saya juga penasaran dengan bentuk asli istana tersebut,agar di renofasikan kembali supaya seni/budaya/sejarah dll gak ketinggalan untuk masyarakat kota pinang labusel dan daerah daerahnya… amin…”

    • Kotapinang said

      @Ridho: Hmmmm!!! Ya kita sampaikan…

    • Ira said

      Atau kita buat agenda pengumpulan koin utk membangun istana,gak kalah dunk sama gedung kpk. Ayo masyarakat indonesia skarang saatnya kita membuktikan kepedulian kita terhadap budaya bangsa, karena istana kota pinang bukan cuma milik suku melayu saja tp jg milik seluruh bangsa indonesia

      • Kotapinang said

        @Ira: hmmm! Ide menarik… Siap gak jadi panitianya…🙂

      • cucuputribahran said

        Ibu Ira yang terhormat, terimakasih atas kesan saudari terhadap Istana Bahran (Istana simbol kejayaan Kotapinang).

        Yang dibutuhkan bukan sekedar membangun Istana, apalah artinya keindahan itu jika tidak ada pengakuan pemerintah pusat sampai saat ini, TUNTUTAN KANDAS DI RUANG PENGADILAN.

        Bukan tidak ada upaya Ahli waris untuk mengurus dan membersihkan. Sejak tahun 2005 sepeninggalan ayahanda kebersihan Istana sudah mulai terabaikan. Generasi ke-2 disibukkan dan menghabiskan banyak uang mengurus legalitas dan pengakuan pemerintah akan adanya sebuah Istana Bahran di Kotapinang.

        Pertapakan Istana masih menjadi kepunyaan Ahli waris, belum adanya dana Ahli waris untuk membangun Istana Bahran, menimbulkan kesan bahwa Ahli waris tidak merawat dan tidak mau membangun.
        Dalam hati Ahli waris dan kerabat2 dan kaum family kesultanan adalah berniat suatu saat akan membangun kembali.
        Aku pun menangis jika membaca sejarah kejayaan sampai keruntuhan, sedih jika membandingkan kerajaan2 di Jawa tengah (kesultanan Surakarta /solo), Yogyakarta (kesultanan Yogyakarta) yang medapat bantuan dana dari pemerintah melalui Kementrian Kebudayaan.

        Sejak 2002 hingga sekarang merantau ke pulau Jawa, mencoba melihat dan membandingkan diskriminasi Pemerintah di Pulau Jawa terhadap Bangsa Melayu – Bangsa Batak di Sumatera Utara.
        Lihatlah pariwisata-pariwisata peninggalan Leluhur Bangsa Karo,
        Lihatlah pariwisata-pariwisata peninggalan Leluhur Bangsa Batak,
        Lihatlah pariwisata-pariwisata peninggalan Leluhur Bangsa Melayu,
        Tidak terlihat/ kurang perhatian Pemerintah pusat terhadap hakcipta dan Legalitas (hak paten HAKI).

        Bandingkan pariwisata-pariwisata peninggalan Leluhur Bangsa Sunda (Wayang Golek Cecepotan, Legalitas atas Bangsa Sunda untuk Indonesia),
        Bandingkan pariwisata-pariwisata peninggalan Leluhur Bangsa Jawa (Batik, Keris, Legalitas atas Bangsa Jawa untuk Indonesia),

        AWALNYA IRI, KINI MENJADI MOTIVASI, APA MASALAHNYA ?

        Ada Raja adat berdiri tiada Raja adat mati. Jika mati anak ribut sekampung, jika mati raja ribut sebangsa. Segala perbuatan dengan ilmu, maka kebajikan akan bertemu.
        Dalam merantau mencari guru. Dalam berdagang mencari ilmu. Dalam duduk, duduk berguru. Dalam tegak, tegak bertanya.

        TAK MELAYU HILANG DI BUMI, tetapi hilang harga diri.

        TAK ADA GADING YANG TAK RETAK, JIKA TAK RETAK BUKAN GADING BERTUAH,
        TAK ADA LAUT YANG TAK BERGELORA, JIKA TAK BERGELORA BUKAN LAUT BER-IKAN.

        Perlukah bertanya lagi ?

        TIDAK PERLU BERTANYA LAGI TENTANG PERHATIAN PEMERINTAH, AKU TELAN MENTAH-MENTAH DISKRIMINASI ITU SELAGI KTP AKU MASIH INDONESIA.

        BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA. BANGSA MENUNJUKKAN BUDAYA.

      • cucuputribahran said

        Menangis saat mengetik ini,
        Mungkin jika dibangun bentuk jadinya tidak seindah dan sebesar yang dulu, karena sebagian tanah sebelah kiri sudah dijual Perwakilan Ahli Waris generasi ke-2 (cucu Sultan/Tengku Aizus Tafa), dijual buat bantuan sidang-sidang di Pengadilan.

        Ahli waris memenangkan di Pengadilan Sumatera Utara, lalu Pemerintah kab.Labuhanbatu banding ke Mahkama Agung, dan dalam banding dimenangkan Kab.Labuhanbatu.

        Jalan satu-satunya adalah menunggu pergerakan generasi ke-3, aku salah satunya.

  5. Ira said

    Walaupun hanya tersisa puing2nya, istana ini masih terlihat keindahannya. Para pejabat jg cuma bisa obral janji utk membangun kembali istana tp sampai detik ini satu batu bata pun belum terpancang disana. Jauh berbeda dgn reruntuhan istana&benteng2 di kota malaka yg msh terawat & menjadi objek wisata di kota tersebut. Apabila pemerintah khususnya para pejabat sumut yg terhormat tdk sanggup membangun kembali istana kota pinang setidaknya sisakan lah sedikit anggaran utk merawat istana tersebut. Jangan sampai puing2 tersebut tdk bisa kita lihat lg 10 thn mendatang.

    • Kotapinang said

      @Ira: Sepakat…..

    • cucuputribahran said

      Ibu Ira yang terhormat, terimakasih atas kesan saudari terhadap Istana Bahran (Istana simbol kejayaan Kotapinang).

      Yang dibutuhkan bukan sekedar membangun Istana, apalah artinya keindahan itu jika tidak ada pengakuan pemerintah pusat sampai saat ini, TUNTUTAN KANDAS DI RUANG PENGADILAN.

      Bukan tidak ada upaya Ahli waris untuk mengurus dan membersihkan. Sejak tahun 2005 sepeninggalan ayahanda kebersihan Istana sudah mulai terabaikan. Generasi ke-2 disibukkan dan menghabiskan banyak uang mengurus legalitas dan pengakuan pemerintah akan adanya sebuah Istana Bahran di Kotapinang.

      Pertapakan Istana masih menjadi kepunyaan Ahli waris, belum adanya dana Ahli waris untuk membangun Istana Bahran, menimbulkan kesan bahwa Ahli waris tidak merawat dan tidak mau membangun.
      Dalam hati Ahli waris dan kerabat2 dan kaum family kesultanan adalah berniat suatu saat akan membangun kembali.
      Aku pun menangis jika membaca sejarah kejayaan sampai keruntuhan, sedih jika membandingkan kerajaan2 di Jawa tengah (kesultanan Surakarta /solo), Yogyakarta (kesultanan Yogyakarta) yang medapat bantuan dana dari pemerintah melalui Kementrian Kebudayaan.

      Sejak 2002 hingga sekarang merantau ke pulau Jawa, mencoba melihat dan membandingkan diskriminasi Pemerintah di Pulau Jawa terhadap Bangsa Melayu – Bangsa Batak di Sumatera Utara.
      Lihatlah pariwisata-pariwisata peninggalan Leluhur Bangsa Karo,
      Lihatlah pariwisata-pariwisata peninggalan Leluhur Bangsa Batak,
      Lihatlah pariwisata-pariwisata peninggalan Leluhur Bangsa Melayu,
      Tidak terlihat/ kurang perhatian Pemerintah pusat terhadap hakcipta dan Legalitas (hak paten HAKI).

      Bandingkan pariwisata-pariwisata peninggalan Leluhur Bangsa Sunda (Wayang Golek Cecepotan, Legalitas atas Bangsa Sunda untuk Indonesia),
      Bandingkan pariwisata-pariwisata peninggalan Leluhur Bangsa Jawa (Batik, Keris, Legalitas atas Bangsa Jawa untuk Indonesia),

      AWALNYA IRI, KINI MENJADI MOTIVASI, APA MASALAHNYA ?

      Ada Raja adat berdiri tiada Raja adat mati. Jika mati anak ribut sekampung, jika mati raja ribut sebangsa. Segala perbuatan dengan ilmu, maka kebajikan akan bertemu.
      Dalam merantau mencari guru. Dalam berdagang mencari ilmu. Dalam duduk, duduk berguru. Dalam tegak, tegak bertanya.

      TAK MELAYU HILANG DI BUMI, tetapi hilang harga diri.

      TAK ADA GADING YANG TAK RETAK, JIKA TAK RETAK BUKAN GADING BERTUAH,
      TAK ADA LAUT YANG TAK BERGELORA, JIKA TAK BERGELORA BUKAN LAUT BER-IKAN.

      Perlukah bertanya lagi ?

      TIDAK PERLU BERTANYA LAGI TENTANG PERHATIAN PEMERINTAH, AKU TELAN MENTAH-MENTAH DISKRIMINASI ITU SELAGI KTP AKU MASIH INDONESIA.

      BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA. BANGSA MENUNJUKKAN BUDAYA.

  6. sofannee said

    Apapun cerita di balik tu semua ingat bang itu tinggal sejarah,yg pnting bg kita cuma melestarikannya…sy mendukung apabila ada tindakan dr PEMKAB LABUSEL UNTUK renovasi istana trsebut,pinomat itu yg ada untuk keunikan labusel…….pisss

    • Kotapinang said

      @Sofanne: Sepakat…🙂

    • cucuputribahran said

      Mungkin sejarah kejayaan bisa terulang,
      Melayu, Batak, Aceh, Minang, Jawa, Bugis, Banjar dan lain lain adalah sebuah bangsa bukan sebuah suku atau kaum, sebab mereka memiliki bahasa daerah masing-masing.
      BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA.
      Ada Raja adat berdiri tiada Raja adat mati, INILAH TUAH BAGI BANGSA MELAYU PANTAI
      TIMUR SUMATERA DI ABAD KE 18, MULAI DARI LANGKAT SAMPAI KE BINTAN.

      HILANG 1 GENERASI-KETAKUTAN HINGGA 1 GENAERASI BERIKUTNYA.
      HILANG 1 GENERASI.
      Jika Belanda berhasil dengan devide et impera-nya, maka komunis PKI beserta Pesindo, berhasil dengan projek yang menamakan dirinya REVOLUSI SOSIAL YANG BERTOPENGKAN DAULAT RAKYAT.
      Kejadian Revolusi Sosial 1946 yang bertopengkan daulat rakyat, nyata-nyata merobohkan dan melenyapkan kelima-lima usul asal di atas dengan cara membunuh/memancung, merampas, memperkosa/merogol, memfitnah, yang semata mata adalah untuk kepentingan pribadi komunis PKI dan Pesindo berserta antek-anteknya.
      Kejadiannya dilakukan malam hari hingga pagi hari, seperti halnya yang dilakukan PKI saat G 30 S PKI.

      Sejak dan setelah kejadian itu, yang selamat ada yang Gila, Ada pula yang selamat ada yang tidak mau bicara dgn orang-orang, Ada pula yang selamat ada yang dipaksa mengajar anak2 buruh kebun. Ada pula yang selamat dan masih mempunyai sisa harta ada yang melarikan diri ke Johor dan Minang, Ada pula yang selamat tetapi tidak mempunyai harta karena dirampas terpaksa mengungsi ke rumah family.
      Satu generasi Melayu pantai timur Sumatera “BERDIAM” 1946-1990. Trauma yang dihantui oleh keganasan komunis PKI dan Pesindo beserta antekanteknya,

      Tanah tanah milik Sultan dibagi-bagikan komunis PKI, kepada para anggota PKI dan para pendatang lokal, dan jika akan diambil balik oleh keluarga Sultan, maka dituduh pula feodal, sebab istilah feodal sangat identik dengan penyokong Belanda.
      KETAKUTAN HINGGA 1 GENAERASI BERIKUTNYA.

      LELUHUR YANG DIABAIKAN ?
      Ada yang belum faham apa itu Leluhur, bahkan banyak yang tergelincir menganggap leluhur itu sebagai Makhluk Halus, Jin, yang harus dipuja dan disesaji.

      LELUHUR MELAYU BUKAN MAKHLUK HALUS, ATAU JIN, ATAU DEDEMIT, MAUPUN YANG BERSEBATI DENGAN BENDA BENDA (Benda Peninggalan Istana Bahkan Istana).

      LELUHUR MELAYU ADA DIDALAM NAMA YANG MEKEKAT DAN DIBAWA TERUS GENERASI-GENERASINYA.

      • Kotapinang said

        Mantap benar ulasannya saudaraku. Seandainya bisa bertemu tuk berdiskusi untuk membangun kembali fuak Melayu Kotapinang. InsyaAllah
        Powered by Telkomsel BlackBerry®

  7. cucuputribahran said

    Ada pantun Batak, “Kapak bukan sembarang kapak, kapak batu pembelah kayu. Batak bukan
    sembarang Batak, Batak yang ini sudah menjadi Melayu.

  8. Tengku Parameswara said

    istana merupakan rumah sultan, sebagaimana layaknya rumah lainnya secara hukum jelas merupakan hak milik ahli waris, bukan pemerintah daerah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: