KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

100 Hari Wilmas Pimpin Labusel, Belum Ada Perubahan Signifikan

Posted by Kotapinang pada Juni 29, 2011

Wilmas

Wilmas

100 Hari Wilmas Pimpin Labusel, Belum Ada Perubahan Signifikan

Oleh: Deni Syafrizal Daulay

SUDAH lebih dari 100 hari masa pemerintahan Bupati Labusel Wildan Aswan Tanjung dan Wakil Bupati Maslin Pulungan sejak dilantik pada 11 Februari 2011. Banyak kalangan memberikan penilaian berbeda, selama masa bulan madu tersebut. Kalangan akademisi menilai pemerintahan Wilmas belum berjalan sepenuhnya, di sisi lain sejumlah anggota DPRD menganggap yang dilakukan Wilmas selama ini cukup bijaksana.

Dalam catatan Saya, sejak dilantik sebagai kepala daerah defenitif pertama Labusel, Wilmas cukup banyak membuat kebijakan, meski kebijakan itu masih belum menyentuh penjabaran visi-misinya saat kampanye pada Pemilukada 2010.
Pada bulan pertama Wildan telah mengeluarkan kebijakan berupa pemberian santunan pada guru agama berprestasi. Namun rencana ini belum tuntas, sebab belum jelas berapa banyak guru yang harus dibantu, berapa besar bantuan, dalam bentuk apa bantuan diberikan, dan bagaimana bantuan itu diberikan.
Selama 100 hari pertama Bupati juga menelurkan kebijakan lain di antaranya mewajibkan seluruh pejabat SKPD untuk menetap di Labusel, Bupati juga telah mengumpulkan pimpinan perusahaan perkebunan yang ada di Labusel untuk membahas masalah dana CSR, kemudian membuat kebijakan peningkatkan disiplin di internal pemerintahan, serta sejumlah kebijakan lainnya, namun sampai kini kebijakan-kebijakan itu belum terealisasi sepenuhnya. Bahkan, hingga kini baik Bupati maupun Wakil Bupati lebih banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan seremonial.
Dalam pandangan Dekan Fakultas Hukum STIH ULB, Gostan Adri SH MHum, Wildan-Maslin masih belum berbuat banyak untuk pembangunan Labusel. Seharusnya selama 100 hari Wilmas sudah memiliki konsep pemetaan (maping) pengembangan wilayah Labusel juga skala prioritas pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Namun kata dia, yang terlihat saat ini keduanya masih terlena dengan berbagai kegiatan seremonial.
Penetapan pertapakan Kantor Bupati yang seharusnya jadi prioritas utama justru belum ada kejelasannya. Hal ini membuat Wilmas harus kerja keras mengejar ketinggalan tersebut. “Dan saya sebagai putra daerah merasa kecewa terhadap mereka, jangan mereka menganggap jabatan Bupati itu sebagai jabatan raja-raja kampung yang selalu dihormati saja tanpa bertanggung jawab selama lima tahun ini kepada masyarakat yang memilihnya,” katanya.
Parahnya kata dia, di tengah upaya menegakkan tonggak visi-misinya, Wilmas justru menjaga jarak dengan elemen lain dari luar pemerintahan seperti OKP, Ormas, organisasi provesi, praktisi, dan akademisi. Padahal dengan menggandeng elemen-elemen tersebut, Wilmas akan mendapatkan masukan untuk merealisasikan program-programnya. “Contohnya, kalau mereka tidak ada konsep pembangunan dan kesejahteraan di Labusel kita siap membantunya dalam bentuk kajian akademis,” katanya.
Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi A DPRD Labusel, Jappar Siddik Nasution menilai, setiap memasuki dunia baru pasti banyak kekurangan di samping kelebihan. Namun dia melihat ketegasan Bupati menjadi modal kuat ke depan, karena tanpa ketegasan, pemerintahan tidak akan kokoh. “Dari sisi kelemahan masih lemahnya kordinasi antar SKPD dalam mewujudkan kinerja yang sinergi hal ini tidak lepas dari kemampuan Bupati mengorganisir SKPD yang ada,” kata Jappar kepada Waspada, Sabtu (11/6).
Namun diakuinya, hal tersebut tidak semudah membalik telapak tangan, perlu waktu dalam menata managemen pemerintahan. “Apalagi dengan dilantiknya Sekdakab defenitif kita berharap akan terorganisir dengan baik, di sisi lain saya melihat adanya ketidak maksimalan para SKPD dalam bekerja karena menunggu adanya perubahan/pergantian di antara mereka dan ini harus secepatnya mendapat jawaban,” kata Ketua DPC PBB Labusel itu.
Untuk jangka lima tahun ke depan kata Jappar, harus terbangun kerja sama yang baik antara eksekutif dengan legislatif karena kebijakan strategis tidak dapat dilakukan secara sepihak. “Jika kerja sama dapat diwujudkan saya yakin Labusel akan bisa bersaing dengn Kabupaten/Kota lain dalam lima tahun ke depan, potensi Labusel yang cukup besar jangn sampai sia-sia,” katanya.
Hal inilah menurut Jappar yang perlu disadari para pengambil kebijakan di Pemkab Labusel, baik eksekutif maupun legislatif. Dia berharap adanya kesadaran yang tinggi di antara dua lembaga ini, jangan sampai yang dipikirkan hanya urusan besok dan lusa. “Tapi untuk 5 hingga 25 tahun ke depan dengan itulah baru bisa dipacu pertumbuhan ekonomi. Bertambahnya lapangan kerja, meningkatkanya produksi masyarakat, masuknya investasi, mudahnya hasil masyrakat keluar dari daerah terisolir, menguatnya daya beli masyarakat, mengantisipasi perputaran uang di dalam Labusel sendiri san sebagainya. Tapi semua tidak semudah membalik telapak tangn apa lagi saling menyalahkan satu sama lain,” katanya. (*)

Dikutip dari Harian Waspada Edisi 13 Juni 2011

Satu Tanggapan to “100 Hari Wilmas Pimpin Labusel, Belum Ada Perubahan Signifikan”

  1. horas,,,,,uda,,,,marsipature huta nabe atau ika bina en pabolo,,,, bangun maju terus kotapinang…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: