KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Pakkat Lalapan Pahit yang Memikat Khas Labusel

Posted by Kotapinang pada Februari 1, 2011

Pakkat

Pakkat

Pakkat Lalapan Pahit yang Memikat Khas Labusel

Oleh: Deni Syafrizal Daulay

MANDAILING merupakan etnis yang tak terpisahkan dari Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel). Keberadaan atnis Mandailing khususnya masyarakat Tapanuli Selatan dan sekitarnya di Labusel turut memberi sumbangan terhadap corak kebudayaan di Labusel termasuk dalam hal kuliner.

Salah satu kuliner khas Mandailing yang diadopsi menjadi bagian dari cirikhas kuliner di Labusel yakni tradisi melalap pakkat. Sejak lama masyarakat Labusel mengkonsumsi pakkat sebagai lalapan maupun masakan dalam sejumlah menu makanannya. Tak heran, keberadaan pakkat begitu akrab dengan masyarakat di daerah ini.

Pakkat adalah pucuk rotan yang masih muda. Pakkat banyak terdapat di perladangan warga, khususnya di tepi sungai Barumun yang membelah Kabupaten Labusel. Tak jelas sejak kapan pakkat dijadikan masyarakat sebagai konsumsi, namun saat ini keberadaan pakkat jadi bagian tak terpisahkan dari menu makanan sehari-hari masyarakat.

Pucuknya yang lunak dijadikan lalapan. Rasanya pahit dan kelat. Sebelum dimakan, pakkat biasanya dibakar terlebih dahulu hingga bagian kulit luarnya yang keras terlihat hitam gosong. Seterusnya bagian yang gosong dikupas sampai akhirnya tampak bagian dalam yang putih bersih dan sudah lembek karena matang.

Di sejumlah daerah di Sumatera Utara seperti Medan dan Deliserdang, tradisi makan pakkat hanya ramai saat puasa Ramadhan. Saat itu sejumlah pedagang pasar kaget akan bermunculan menwarkan pakkat tersebut. Namun di Labusel, pakkat dapat ditemukan kapan saja. Bahkan di pasar tradisional setiap hari pakkat dengan mudah ditemukan.

Biasanya pakkat dijual sepanjang satu meter. Bagian yang lunak disajikan dengan berbagai cara setelah dipotong-potong pendek terlebih dahulu. Harga satu potongan pakkat tersebut dijual cukup murah, sekitar Rp200 hingga Rp300 per batangnya. Untuk konsumsi sehari-hari, warga biasanya minimal membeli dua batang pakkat.

Di Labusel, pakkat diolah masyarakat menjadi beberapa jenis makanan. Untuk menu sehari-hari, biasanya pakkat muda hanya dicincang kecil lalu dijadikan lalapan yang dipadu dengan sambal terasi. Rasa pahit pakkat yang dicampur dengan sambal memberi citarasa tersendiri sehingga membuat selera makan bertambah.

Selain sebagai lalapan, pakkat kerap diolah menjadi masakan yang disebut anyang. Anyang tersebut terdiri dari sawirang pakkat yang sudah dibakar menggunakan kelapa, jeruk nipis, dan bumbu-bumbu lainnya. Masakan ini biasanya sering jadi menu utama masyarakat pada bulan Ramadan. Pakkat juga dijadikan masyarakat sebagai bahan utama masakan holat, salah satu masakan khas asal Tapanuli Selatan yang kuahnya diramu dengan irisan kulit kayu balakka dan tepung beras yang digonseng terlebih dahulu.

Jaman dahulu, keberadaan pakkat jadi satu cinderamata istimewa dari Labusel. Banyak warga yang kerap berkirim pakkat ke sanak keluarganya di luar Labusel. Meski harganya tak seberapa, namun hadiah tersebut terasa sangat spesial karena sulitnya mencari pakkat. Bahkan di sejumlah daerah, pakkat sudah tak ditemukan.

Namun tradisi berkirim pakkat itu kini sudah jarang dilakukan masyarakat. Sebab selain karena dianggap terlalu tradisional, keberadaan pakkat di wilayah Labusel pun sudah semakin langka, hal itu sedikit banyak dipengaruhi konversi lahan di daerah ini menjadi perkebunan kelapa sawit. Padahal, pakkat dulunya tumbuh subur daerah rawa di pesisir sungai Barumun. (*)

Satu Tanggapan to “Pakkat Lalapan Pahit yang Memikat Khas Labusel”

  1. cucuputribahran said

    teman-teman kampus ku sering heran kalau aku ceritakan bahwa aku pernah makan PUCUK ROTAN MUDA.
    mereka sering meledek “awas lo jangan makan nih kursi gue”
    hahahahaha aku jadi bahan ledekan satu kosan.

    Intermezo aja bang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: