KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Ulame Ole-ole Khas Labusel

Posted by Kotapinang pada Januari 16, 2011

Dodol dalam sumpit

Dodol dalam sumpit

Ulame Ole-ole Khas Labusel

Oleh: Deni Syafrizal Daulay

BEPERGIAN ke daerah lain kurang lengkap rasanya tanpa membawa buah tangan. Apalagi buah tangan yang dibawa merupakan cirikhas yang jadi identitas daerah yang dikunjungi tersebut. Buah tangan juga merupakan harapan dari orang terdekat saat kita bepergian.

Jika anda berkunjung ke Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel), maka kurang pas rasanya jika tak membawa dodol. Sebab dodol di Labusel cukup istimewa  dengan citarasanya yang khas. Sejak lama dodol jadi satu panganan khas asal Labusel, tak heran banyak orang di luar daerah ini berharap sanak keluarganya yang bertandang ke kabupaten beribukota Kotapinang tersebut membawa dodol sebagai cindera mata. Hanya saja, dodol di Labusel didapatkan pada waktu-waktu tertentu, hal tersebut mungkin karena kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan dodol sebagai satu identitas panganan khas daerah.

Berbeda dengan kebanyakan dodol saat ini, yang pengemasan dan pembuatannya sudah lebih modern, dodol Labusel masih sangat tradisional, baik dari bentuk, bahan, dan pembuatannya. Bagi sebagian masyarakat di daerah ini, dodol lebih sering disebut ulame. Nama tersebut merupakan serapan dari bahasa Mandailing yang artinya kelapa, sebab dodol tersebut berbahan dasar air perahan kelapa.

Ulame adalah sejenis makanan yang boleh dikategorikan dalam kumpulan makanan yang manis (atau manisan/penganan). Ulame cukup terkenal di Labusel, meski banyak daerah lain baik di Sumatera Utara, Indonesia hingga mancanegara juga terdapat panganan dodol.

Proses pembuatan ulame cukup rumit. Sebab pengelolaannya masih dikerjakan secara tradisional. Biasanya yang mahir membuat ulame adalah mereka yang sudah tua. Sebab, generasi muda saat ini kurang tertarik membuat panganan ini.

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat dodol terdiri daripada santan kelapa, tepung beras, gula, dan garam. Semua ramuan ini diadon dalam kuali besar prosesnya pun cukup lama yakni sekitar 4 hingga 5 jam dimasak dengan suhu tinggi, sehingga ulame berubah menjadi legit, tebal dan manis.

Ulame biasanya dibuat pada saat menjelang lebaran idul fitri, karena rumitnya membuat ulame, biasanya pengerjaannya dilakukan secara bergotong royong. Sejumlah pemuda dan orang tua bergantian mengaduk adonan ulame di dalam kuali. Ulame yang dimasak tidak boleh dibiarkan kerana jika dibiarkan, dodol akan hangus dan di bagian bawahnya berkerak. Karenanya, dodol sentiasa diaduk bergilir-gilir untuk mendapatkan hasil yang baik. Untuk mendapatkan hasil yang baik, ulame harus berwarna coklat tua, berkilat dan pekat.

Setelah adonan masak, biasanya bubur ulame tersebut dimasukkan ke dalam sumpit yang terbuat dari daun pandan duri, hal itu dilakukan agar aromanya lebih wangi dan enak. Biasaannya ulame akan dihidang kepada tamu yang datang saat lebaran. Namun di sejumlah daerah, ulame dapat ditemukan kapan saja.

Melalui suatu kreativitas yang sangat antusias, dalam mengembangkan panganan tradisional, yang semula kurang mempunyai nilai guna untuk diolah menjadi suatu produk makanan memiliki nilai prospek bisnis menggiurkan bagi semua kalangan masyarakat, yang telah menjalankan bisnis dengan cara yang baik dan benar. Selain itu ulame juga dapat dijadikan makanan khas daerah yang rasanya enak dan tidak kalah dengan dodol yang ada di pasaran.

Hal seperti inilah yang dapat meningkatkan suatu perkembangan dari suatu daerah. Semua itu bukan hanya karena kebetulan, tetapi dalam hal ini kreativitas, akan tercipta suatu peluang bisnis. Mungkin dengan adanya makanan khas yang berbentuk dodol ini, secara tidak langsung akan memberikan kesan tersendiri bagi Kabupaten Labusel. Daerah lain di Sumatera Utara akan lebih memperhatikan Kabupaten Labusel sebagai tempat untuk berbisnis yang mempunyai daya saing dengan makanan tradisional dari kota lain, karena makanan tradisional ini dibuat dengan bahan dasar kelapa. (*)

15 Tanggapan to “Ulame Ole-ole Khas Labusel”

  1. Golden said

    Izin tag Bos, untuk arsip di blog ane demi kemajuan LABUSEL. Kasih Cendol dah….!!!🙂

  2. Roynaldi Ginting said

    saya setuju makanan khas dari kota pinang itu salah satunya dodol,,,memang enak dan lezat,,,,walau saya bukan orang kota pinang tapi saya pernah mencicipi oleh-oleh dari kekasih saya dari kota pinang,,,hmmm nikmatnya benar-benar”la terkataken” kata orang karo,,,hehehehe

  3. LISA said

    Di mana beli oleh2 khas labusel ulame itu den

  4. math games said

    first!

  5. Larus said

    Kalau mencari dan mau menikmatinya, apa ada tempat yang menjajakannya. Pingin nyoba kaeknya….

  6. Rahmat said

    Mang ulame itu adalah ciri khas makanan labusel saya sangat setuju tuh karna mang rasanya yg benar2 lezat dan tidak seperti dodol yg dipasaran.cara pengerjaanya yg unik itu menambah daya rasa lebih

  7. Amda said

    betul…ulame ini adalah makanan khas yg langka, setelah atok ku meninggal, sangat jarang sekali kami membuat ulame
    tp setahu ku, bukan dari tepung beras tapi dari tepung pulut

  8. irvan zezar said

    ada juga makanan khas labusel lo
    yaitu keripik pinang
    pernah gk dengar nya ??
    itu di jual ada di daerah blok 9 dan tolan
    rasanya si lumayan

  9. Ovi laras sati said

    Dibukit nya dmana nya kak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: