KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Endeng-endeng Bertahan Di Tengah Gempuran Organ Tunggal

Posted by Kotapinang pada Desember 24, 2010

Tarian Cenggok-cenggok

Tarian Cenggok-cenggok

Kebudayaan Lokal Labusel Diambang Kepunahan (bagian 3, habis)

Endeng-endeng Bertahan Di Tengah Gempuran Organ Tunggal

Oleh: Deni Syafrizal Daulay

SATU lagi kesenian tradisional khas di Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) yang hampir tergusur modernitas yakni kesenian endeng-endeng. Nasib endeng-endeng di Labusel sedikit lebih baik dibanding cenggok-cenggok dan zikir bordah. Di tengah eksistensi kesenian musik modern, endeng-endeng mampu bertahan hingga saat ini, meski perhatian pemerintah untuk pembinaan dan mempertahankan kesenian ini sangat minim.

Kesenian endeng-endeng memang bukanlah kebudayaan asli masyarakat Labusel. Kesenian ini diadopsi dari kesenian khas masyarakat Tapanuli Selatan. Namun, sejak lama masyarakat Labusel telah mengenal dan mengadopsi kesenian ini menjadi budaya mereka. Kesenian ini merupakan perpaduan tari-tarian dan tarik suara.

Dalam penampilannya, endeng-endeng dimainkan oleh sepuluh pemain yakni dua orang bertugas sebagai vokalis, satu orang pemain keyboard, satu orang pemain tamborin, lima orang penabuh gendang, dan seorang pemain ketipung (gendang kecil). Biasanya lagu yang dibawakan berbahasa Tapanuli Selatan. Setiap tampil, kesenian ini memakan waktu empat jam. Daya tarik kesenian ini adalah joget dan tariannya yang ceria, sesuai dengan lagu-lagu yang dibawakan.

Namun kini kesenian ini terguncang saat hiburan organ tunggal menjamur di Labusel. Dampaknya, banyak seniman endeng-endeng beralih ke pekerjaan lain. Ibarat tersapu gelombang tsunami, selama beberapa dasa warsa ini banyak kesenian tradisonal Labusel yang hilang dan beralih pada bentuk kesenian lain, seperti organ tunggal. Hanya sedikit yang bertahan, satu di antaranya endeng-endeng. Namun kesenian inipun semakin kritis, di Labusel kini hanya menyisakan tiga kelompok seni endeng-endeng yang masih eksis, satu di antaranya yakni Kelompok Seni Endeng-endeng Kalapane di Kecamatan Kotapinang.

Menurut Hamzah, 35, penabuh gendang yang juga pengelola Kelompok Seni Endeng-endeng Kotapinang, banyak kelompok endeng-endeng di Labusel gulung tikar, karena sepi order. Mereka hanya bergantung pada musim tertentu, yaitu musim pernikahan dan sunat rasul. Sisanya, mereka terpaksa mencari pekerjaan lain untuk kelangsungan hidup. “Sekarang memang sepi sekali, masyarakat lebih suka hiburan organ tunggal,” kata ayah empat anak itu kepada Waspada, Kamis (3/11).

Pria yang juga bekerja sebagai PNS di Pemkab Labusel ini mengatakan, alasan mereka bertahan sebagai seniman endeng-endeng hanya karena hobi. Sebab penghasilan dari bermain endeng-endeng sebenarnya tak mencukupi untuk menfkahi keluarga. Untuk sekali undangan, mereka dibayar Rp800 ribu. Uang tersebut dibagi untuk sepuluh pemain. Masih ada lagi ongkos sewa kendaraan untuk mengangkat peralatan. Tentu pemasukan sebesar itu jadi tak memadai. Beruntung, saat ini grup mereka masih bisa mendapat panggilan maksimal delapan kali sebulan. “Setiap diundang, uangnya paling cukup buat jajan saja. Setiap pemain hanya dapat Rp50 ribu,” katanya.

Untuk bertahan mereka terpaksa berinovasi. Dia mengaku mengombinasikan kesenian khas Tapanuli itu dengan zikir bordah dan tarian cenggok-cenggok. Sesekali dalam penampilannya mereka juga membawakan lagu dangdut. Alat musik yang digunakan pun makin beragam. Bahkan mereka membawa organ tunggal agar penonton tak bosan dengan pertunjukan mereka. “Jadi kalau di tengah penampilan masyarakat minta kami nyanyi dangdut ya kami ladeni,” kata warga Jalan Kalapane itu menambahkan.

Meski kehidupan mereka tak sejahtera dari kesenian ini, semangat kesenian membuat mereka bertahan. Namun sama dengan kesenian daerah lainnya di Labusel, endeng-endeng pun kesulitan menciptakan bibit baru untuk mempertahankan kelangsungan kesenian ini.

Menurut Hamzah, sebenarnya banyak remaja yang berminat untuk belajar endeng-endeng. Namun mereka tak memiliki pendanaan untuk melakukan pembinaan. Belum lagi biaya untuk mendatangkan instruktur yang benar-benar paham tentang endeng-endeng. Sementara untuk mengutip bayaran sangat tak memungkinkan. “Banyak yang kepingin belajar, namun masalahnya ya kembali ke pendanaan,” katanya.

Di tempat terpisah pembina Kelompok Seni Endeng-endeng Kalapane, Khairul Hasibuan, 30,  mengatakan, untuk dapat bertahan mereka terpaksa mengadopsi kesenian musik modern sesuai keinginan masyarakat. Sehingga kini, selintas tampak kesenian ini seperti menyerah pada kemauan pasar. Lagu khas Endeng-endeng yang dimainkan sebentar, lalu diselingi lagu dangdut. “Bahkan kadang justru dangdutannya yang lama,” katanya.

Pria lajang ini mengatakan, sebenarnya hasrat untuk mengembalikan kesenian ini pada wujud aslinya sangat besar. Namun tantangannya justru kesenian ini terancam ditinggalkan penggemarnya. “Makanya kami seperti memakan buah simalakama,” katanya.

Menurutnya, kesenian ini sekarang kurang berkembang karena pendanaannya kurang. Selama ini upaya pembinaan untuk regenerasi pun tak berjalan mulus, sebab tak pernah ada bantuan dari pemerintah daerah. Untuk keperluan pelatihan dan pembinaan seperti membeli baju saja gaji pemain harus dipotong. Khairul tak bisa meramalkan berapa lama lagi kesenian ini mampu bertahan di Labusel. (*)

2 Tanggapan to “Endeng-endeng Bertahan Di Tengah Gempuran Organ Tunggal”

  1. Benny Ichsanda said

    Aku paling senang sama kesenian ini kalo ada pesta..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: