KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Zikir Bordah Tak Punya Penerus

Posted by Kotapinang pada Desember 23, 2010

Ilustrasi

Ilustrasi

Kebudayaan Lokal Labusel Diambang Kepunahan (bagian-2)

Zikir Bordah Tak Punya Penerus

Oleh: Deni Syafrizal Daulay

SELAIN cenggok-cenggok, keberadaan kesenian zikir bordah atau zikir 12 yang jadi ciri budaya masyarakat Kabupaten Labuhanbatu Selatan kini juga berada diambang kepunahan. Dari sekian banyak pelantun zikir di Labusel, kini hanya tinggal satu kelompok zikir yang bertahan. Minimnya minat generasi muda untuk belajar, membuat bordah tak dapat beregenerasi.

Alunan suara terdengar merdu dan nyaring saat H Abdul Halim Siregar, 79, melantunkan sebait syair zikir Al Barzanji. Kepiawaiannya membawakan syair-syair tersebut mampu memecah keheningan di kediamannya di Desa Asam Jawa, Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Kakek paruh baya itu baru saja pulang dari ladang, saat Waspada bertandang ke rumah yang dihuninya bersama sang istri, Rabu (2/11).

Wak Halim begitu sapaan akrabnya, dia adalah satu-satunya personel Kelompok Zikir Bordah (Zikir 12) senior di Labusel yang masih hidup sampai saat ini. Kelompok zikir tersebut merupakan kelompok seniman kenamaan dimasa kejayaannya. Kepandaian mereka dalam bersenandung, membuat mereka kerap tampil dalam berbagai kegiatan baik itu acara pemerintahan maupun sekadar pesta kawinan.

Kepada Waspada Halim menuturkan, masyarakat Labusel merupakan masyarakat berbudaya. Bahkan dalam hal perkawinan, di masa lalu mempelai harus melalui prosesi rangkaian tradisi adat. Tradisi itu di antaranya acara zikir bordah. Kesenian ini disebut zikir 12 disebabkan dalam penampilannya zikir ini terdiri dari 12 nazam (bagian) zikir yang dibawakan. Namun, sambung dia, saat ini kebudayaan zikir bordah yang merupakan perlambang rasa syukur atas dilaksanakannya prosesi pernikahan di kalangan masyarakat Labusel semakin menurun bahkan terancam punah.

Menurutnya, zikir bordah merupakan perpaduan seni musik, syair, dan ritual keagamaan. Seniman Bordah yang umumnya beranggotakan enam orang itu dalam penampilannya membacakan doa-doa dari buku zikir Al Barzanji. Sambil menabuh gendang, mereka melantunkan doa-doa tersebut layaknya nyanyian. Keindahan, ketinggian, dan kemerduan suara jadi cirikhas kesenian ini. Umumnya kesenian khas Labusel ini dipertontonkan pada kegiatan Musabaqoh Tilawatil Quran, pesta kawinan, sunatan dan hajatan lainnya.

Kata dia, selama ini masyarakat Labusel cukup mengenal kesenian tersebut. Namun kini perpaduan seni tari dan tarik suara itu diambang kepunahan. Padahal kesenian itu merupakan budaya khas Labusel. Keberadaan kesenian ini kalah populer dari seni tradisional endeng-endeng dan organ tunggal yang memang jauh lebih modern. Apalagi, bordah yang mereka bawakan tak pernah mengalami modernisasi.

Halim mengatakan, tak ada catatan resmi tentang asal-muasal zikir bordah. Namun pada umumnya kesenian ini digunakan masyarakat pada saat pembukaan dan penutupan kegiatan MTQ atau kegiatan pesta kawinan. Seniman bordah bermain musik hanya menggunakan gendang. Menurutnya, daya tarik kesenian ini adalah lirih syair yang dinyanyikan, sehingga tiap kali kegiatan ini digelar banyak penonton yang menangis dan menjerit histeris. “Dulunya alat musiknya cuma gendang, namun sesuai dengan perkembangan zaman sekarang zikir modern sudah menambahkan piano dan sebagainya,” kata dia.

Tarian dalam kesenian ini semakin menambah keindahan bordah. Gerakan tarian juga tidak jauh menggambaran suasana suka-cita suatu pesta. Dulunya, zikir bordah berlangsung mulai pukul 21.00 WIB hingga pukul 7.00 WIB. “Tarian dibuat agar gambaran suka cita orang berpesta terlihat, di dalamnya juga terlihat kekentalan keagamaan,” katanya.

Dimasa kejayaan mereka kata Halim, untuk setiap penampilan mereka tak pernah dipungut biaya. Pengundang cukup memberi jamuan makan kepada mereka sebagai jasa atas hiburan yang dibawakan. Inilah menurutnya yang membuat generasi muda saat ini tak lagi berminat belajar bordah. Setiap kali ingin mengajak remaja untuk belajar, mereka selalu ditanyakan mengenai berapa uang yang dihasilkan. “Kekmana kami menjawabnya,” katanya lirih.

Belum lagi kata dia, kesenian bordah sulit dipelajari. Sebab selain bakat, penzikir bordah harus memiliki suara yang baik. Untuk pembinaan lanjutnya, diperlukan waktu dua tahun mulai dari menghafal zikir hingga tarikan suaranya. “Makanya sulit untuk menurunkan kepandaian ini tanpa bantuan pemerintah,” katanya menambahkan.

Kini Halim sudah tak kuat lagi bermain bordah. Teman sejawatnya pun kini sudah tak ada lagi. Sedangkan generasi mereka sudah tidak ada. “Saya sudah tak punya generasi untuk melanjutkan kesenian ini, siapa yang mau belajar kalau uangnya nggak ada,” kata dia.

Satu-satunya generasi penerus bordah yakni Kelompok Kesenian Tradisional Zikir Bordah Kotapinang dari Kelurahan Kotapinang, Kecamatan Kotapinang, Kabupaten Labusel. Kelompok ini merupakan satu-satunya zikir bordah yang masih ada di Kabupaten Labusel. Selain tampil di sekitar Labusel, kelompok yang berdiri sejak tahun 1990-an ini pernah beberapa kali tampil dalam suatu acara di Medan.

Ramlan Harahap, 51, salah satu pentolan grup ini kepada Waspada mengatakan, agar tetap bertahan, kelompok zikir mereka mengkombinasikan zikir dengan kesenian lain. Kelompok mereka kini hanya mempunyai empat anggota yang keseluruhannya laki-laki dan sudah paruh baya. Padahal lazimnya bordah dimainkan enam orang penzikir. Namun karena keterbatasan pemain, mereka terpaksa mempertahankan zikir tersebut meski dengan empat pemain.

Pria yang sudah 12 tahun menekuni kesenian ini mengatakan, salah satu upaya yang mereka lakukan agar kesenian ini tetap diminati yakni dengan memodifikasinya dan mengkombinasikannya dengan kesenian lain seperti cenggok-cenggok dan endeng-endeng. Tak hanya itu, waktunya pun dipersingkat yakni pukul 21.00 WIB hingga pukul 2.00 WIB. “Kesenian ini kini sudah langka dan kurang diminati masyarakat, tetapi kami berusaha melestarikannya,” katanya.

Upaya yang mereka lakukan tak sia-sia, kini mereka mampu bertahan. Untuk setiap penampilannya mereka tak lagi gratisan. Mereka selalu dibayar Rp300 ribu per orang setiap tampil. Dengan modifikasi tersebut lanjut dia, penampilan grup mereka cukup mendapat sambutan baik dari masyarakat. Dalam sebulan lanjut dia, kelompok mereka paling sedikit tampil delapan kali.

Namun masalahnya kata ayah empat anak itu, untuk kelangsungan kesenian ini, mereka tak punya generasi. Meski bayaran untuk zikir bordah saat ini terbilang lumayan, namun remaja tak berminat untuk belajar, sebab untuk belajar zikir bordah cukup rumit dan memakan waktu dua tahun. Parahnya, SDM untuk kesenian ini pun sekarang sulit didapat. “Remaja sekarang kuat merokok, jadi kami tak bisa mendapatkan remaja yang suaranya benar-benar bagus,” katanya. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: