KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Cenggok-cenggok Kehabisan Generasi

Posted by Kotapinang pada Desember 22, 2010

Cenggok-cenggok

Cenggok-cenggok

Kebudayaan Lokal Labusel Diambang Kepunahan (bagian-1)

Cenggok-cenggok Kehabisan Generasi

Oleh: Deni Syafrizal Daulay

SEBAGAI masyarakat berbudaya, Labuhanbatu Selatan (Labusel) memiliki banyak kekayaan budaya daerah seperti, zikir 12 (zikir bordah), cenggok-cenggok dan endeng-endeng. Namun kini peninggalan leluhur tersebut berada diambang kepunahan, karena kalah bersaing dengan budaya modern. Bahkan, kesenian cenggok-cenggok saat ini tak lagi memiliki generasi penerus, setelah Sanggar Cenggok-cenggok Sinandong Tiga Serangkai tak lagi eksis di Labusel.

Cenggok-cenggok merupakan perpaduan seni tari dan pencak silat yang dulunya sering dijadikan hiburan saat warga di daerah Labusel menggelar kegiatan pemerintah maupun pesta seperti pernikahan, syukuran, sunat rasul dan pesta lainnya. Pertunjukan cenggok-cenggok lazimnya dilakoni 12 orang pemain yakni enam orang sebagai penabuh gendang sekaligus pemain pencak silat, seorang pemain viul (biola), seorang pemain bangsi (seruling) dan empat orang wanita sebagai penari.

Pertunjukan cenggok-cenggok biasanya diawali oleh sambutan dari ketua sanggar. Usai sambutan, dilanjutkan dengan menampilkan tarian dan nyanyian melayu. Selepas pertunjukan tersebut dilakukan berbalas pantun dan pencak silat. Lalu dilanjutkan dengan nyanyian serta tarian cenggok-cenggok dan begitu seterusnya. Pertunjukan ini biasanya berlangsung selama tiga jam.

Menurut H Umaruddin, 72, seniman sekalgus penggagas kesenian cenggok-cenggok di Labusel, nama cenggok-cenggok sendiri diambil dari salah satu judul lagu yang dinyanyikan pada pertunjukan tersebut. Saat ini kesenian yang diadopsi dari daerah Kualuh dan Labuhan Bilik ini tak lagi mendapat tempat bagi masyarakat Labusel. “Kita sangat menyayangkan saat ini masyarakat tak lagi meminati kebudayaan sebagai warisan leluluhur yang penting untuk dilestarikan. Kini orang lebih bangga pesta menggunakan organ tunggal ketimbang Cenggok-cenggok,” katanya kepada Waspada saat ditemui di kediamannya, Rabu (2/11).

Pria kelahiran Kampung Masjid Desember 1938 yang kini bermukim di Jalan Labuhan Baru, Kotapinang itu mengaku, sudah hampir sepuluh tahun terakhir kelompok kesenian cenggok-cenggok yang dibinanya sejak tahun 1960-an itu tak mendapat undangan dari masyarakat yang pesta. Padahal, dulunya kesenian ini menjadi kebanggaan masyarakat untuk digelar di pestanya. Bahkan cenggok-cenggok selalu mendapat kehormatan untuk menyambut pejabat yang bertandang ke Kotapinang maupun Labuhanbatu di masa itu. “Terakhir kali saya mendapat panggilan itu sepuluh tahun lalu, sampai saat ini sudah nggak pernah lagi,” katanya.

Ketua Kelompok Seni Cenggok-cenggok Sinandong Tiga Serangkai ini juga mengatakan, saat ini masyarakat lebih memilih menggunakan organ tunggal sebagai penghibur pestanya. Padahal lanjut dia, untuk mengundang cenggok-cenggok biayanya tidaklah mahal. Untuk mendatangkan hiburan ini, mereka biasanya dibayar Rp150 ribu. Uang itu kemudian dibagi untuk 12 orang pemain. Sehingga rata-rata pemain hanya mendapatkan uang Rp12 ribu. Sementara untuk mengundang organ tunggal saat ini rata-rata Rp2,5 jutaan.

Ali Amran, 53, seniman cenggok-cenggok lainnya mengakui hal serupa. Bahkan saking lamanya tak pernah tampil, pria yang kini bekerja sebagai pedagang bunga ini mulai lupa dengan gerakan yang dibawakan dalam kesenian tersebut. “Saya terkadang sedih saat melihat pesta, biasanya kami yang tampil di pesta itu, namun kini orang lebih senang melihat keyboard,” kata pria kelahiran Labuhanbilik 1957 itu.

Awalnya pria yang akrab disapa Atan Sumbayang itu pun teguh menekuni kesenian tersebut. Namun saat cenggok-cenggok tak lagi mendapat tempat di hati masyarakat, dirinya terpaksa mencari alternatif usaha lain untuk kelangsungan hidupnya. Terlebih, pemerintah daerah juga tak begitu peduli dengan kebudayaan tersebut. “Kami sejak dulu tak pernah diundang pemerintah untuk menampilkan cenggok-cenggok,” katanya.

 

///Kehilangan Generasi///

Senasib dengan senimannya yang kini tak lagi mendapat kesempatan tampil, cenggok-cenggok saat ini pun hampir punah khususnya di daerah Labusel. Sebab selain masyarakat tak lagi berminat menontonnya, kalangan remaja yang diharapkan jadi penerus kesenian ini pun tak berminat mempelajari kesenian tersebut. Akibatnya, saat ini kesenian cenggok-cenggok tak lagi memiliki generasi penerus.

“Tak ada anak-anak apalagi remaja yang mau belajar kesenian ini. Mereka lebih suka menari modern. Generasi terakhir dari kesenian ini ya saya dan pemain cenggok-cenggok lawas lainnya, kalau kami meninggal maka kesenian ini tak ada lagi. Bahkan cenggok-cenggok tak akan diingat sebagai khasanah budaya yang pernah berjaya di Labusel,” kata Umar.

Parahnya lanjut Umar, pemerintah daerah baik dimasa pemerintahan Pemkab Labuhanbatu maupun Pemkab Labusel tak pernah sekalipun melirik kesenian ini sebagai sesuatu yang berharga untuk dipertahankan. Karenanya sampai kini tak pernah ada uapaya untuk melestarikannya lewat pembinaan atau pelatihan. “Belum pernah ada pelatihan yang diprogramkan pemerintah,” kata penabuh gendang tersebut.

Padahal kata dia, jika dipertahankan kesenian ini tak kalah dengan kesenian lainnya yang ada di Sumatera Utara. “Makanya sebelum kesenian ini punah, pemerintah harus sigap untuk kembali melestarikannya. Ini merupakan kekayaan budaya yang belum tentu dimiliki daerah lainnya di Sumatera Utara maupun di Indonesia,” katanya mengakhiri. (bersambung)

4 Tanggapan to “Cenggok-cenggok Kehabisan Generasi”

  1. joseph said

    cool

  2. james said

    like me

  3. kathy said

    how do i join

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: