KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Bertahan Di Tengah Himpitan Sawit

Posted by Kotapinang pada November 25, 2010

Petani di Desa Sabungan

Petani di Desa Sabungan

Bertahan Di Tengah Himpitan Sawit

Oleh: Deni Syafrizal Daulay

HARGA tinggi ternyata tak serta merta menggoda semua petani sawah di Kabupaten Labuhanbatu Selatan lantas mengkonversi lahan pertaniannya menjadi kebun kelapa sawit. Di sejumlah tempat di daerah ini, masih banyak petani yang bertahan bertanam padi meski hasilnya jauh dari harapan.

Suara gemericikan air yang mengalir dari bendungan irigasi gemerisik di hamparan perladangan padi yang membentang di Dusun Pardomuan, Desa Sabungan, Kecamatan Sungai Kanan, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kamis (27/10). Seorang wanita paruh baya terlihat asyik mencangkul persawahan yang disemaki alang-alang. Dua hari sebelumnya persawahan itu baru saja disemprot pestisida untuk persiapan musim tanam.

Dialah Rosdiana Siregar (68) seorang warga di desa yang dulunya dikenal sebagai lumbung padi itu, yang belum mau mengkonversi sawahnya menjadi kebun sawit. Bersama Ros sapaan akrabnya, sejumlah petani lainnya di tempat itu juga masih mempertahankan persawahan mereka meski sumber air di irigasi itu kini sudah dicemari limbah pabrik yang ada Desa Sabungan.

“Kalau dibilang iri ya irilah. Saya bercocok tanam paling panen hanya dua kali setahun. Itupun hasilnya pas-pasan. Sementara kalau berkebun sawit kerjanya sedikit tapi hasilnya lumayan,” kata ibu dari sebelas anak itu.

Dia mengatakan, dulunya hampir seluruh warga hidup dari bertanam padi di desa tersebut. Namun tingginya harga buah kelapa sawit membuat sebagian besar petani mengganti sawahnya jadi kebun sawit. Perubahan cuaca yang kini sulit diramalkan jadi alasan utama mengapa petani mengkonversi lahannya. Di samping itu, hasil bertanam padi dirasa terlalu pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kamipun sebenarnya kepingin tapi cemanalah, modal pun pas-pasan,” katanya.

Menurut wanita yang sudah 20 tahun bersawah di tempat itu, dari bercocok tanam dia hanya mampu menghasilkan 38 kaleng gabah kering dari sawahnya seluas tujuh rante. Setelah dikeringkan padi tersebut hanya dapat menghasilkan 12 kg beras. Padahal masa tanamnya mencapai empat bulan dan hanya dua kali dalam setahun. Mensiasatinya, wanita ini terpaksa jadi pekerja kebun. Dari upah membersihkan perkebunan yang ada di kawasan itu, dia dapat memenuhi nafkah keluarganya sehari-hari. “Jangankan dijual, untuk makan sendiri pun kurang. Paling tahan lima hari,” katanya.

Kondisi yang sama dilakukan petani lainnya di tempat itu. Gindo petani lainnya mengatakan, saat ini petani yang ada hanya tinggal 50-an saja. Lahan yang tersisa pun hanya sekitar 20-an hektare. Rata-rata pemilik lahan pun kini sudah malas bercocok tanam dan memilih menyewakan lahan persawahannya dengan sistim bagi hasil. “Sudah makin sikit petani pun malas. Kini yang bercocok tanam di sini hanya warga Langgapayung, Gunung Tua, dan beberapa desa lainnya di sekitar daerah ini,” katanya.

Sejak lama lanjutnya, mereka berkeinginan mengkonversi lahannya. Hanya saja lahan yang dimiliki terlalu kecil dan satu-satunya, sehingga kalaupun ditanami sawit, mereka akan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena masa tanam sawit cukup lama. “Kalau kami ada lahan lain udah kami tukar ini,” katanya.

Dia mengakui, sebenarnya petani masih mencintai persawahannya. Namun mereka tak pernah dibekali pengetahuan bercocok tanam yang baik, sehingga hasil panennya tak mumpuni. “Kalaupun ada penyuluhan paling sekali itu pun udah lama kali,” sambungnya.

Masih Menghimbau

Sekretaris Desa Sabungan Yuhana Sari kepada Waspada mengatakan, saat ini lahan persawahan di desa itu hanya ada di Dusun Pardomuan. Pihaknya sampai kini masih terus berupaya meghimbau warga di tempat itu untuk tidak mengkonversi lahannya. “Bahkan saya punya sawah di situ, saya sengaja tidak konversi agar warga tak ikut-ikutan,” katanya.

Menurutnya, penyebab utama beralihnya masyarakat jadi petani sawit karena cuaca saat ini tak menentu. Dulunya, pada bulan September terjadi musim hujan, saat itu masyarakat mulai bercocok tanam. Sementara hingga November saat ini cuaca masih kemarau. Parahnya lanjut dia, Sungai Kanan yang mengalir di daerah itu sering meluap dan membanjiri perladangan warga hingga membuat padi gagal panen. “Makanya mereka semua beralih,” katanya.

Untungnya tambah dia, masih ada persawahan yang tersisa meski hanya tinggal puluhan hektare saja. Namun kendalanya kata wanita bertubuh bongsor itu, persawahan yang tinggal sedikit itu kini jadi rawan hama, sebab ekositemnya sudah rusak karena sekelilingnya ditumbuhi sawit dan karet. “Sebenarnya mereka sering kita kasi penyuluhan, namun apa mau dibilang,” katanya.

Untuk mempertahankan persawahan di dusun tersebut lanjutnya, tahun ini pemerintah mengucurkan program bantuan untuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang disalurkan Badan Ketahanan Pangan Pemkab Labusel, yakni berupa pinjaman senilai Rp100 juta per gabungan kelompok tani. “Tapi belum dicairkan, mudah-mudahan dengan ini petani dapat menanam sawahnya,” tambahnya.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik Labuhanbatu tahun 2008, jumlah padi sawah yang tersisa di lima kecamatan yang kini dimekarkan menjadi Kabupaten Labuhanbatu Selatan yakni 1.304 ha dengan hasil produksi 1.375.139 ton dan produktifitas 83,47 kwintal per hektar. Sementara padi ladang hanya 465 ha dengan hasil produksi 1.175 ton dan produktifitas 50,57 keintal per hektar.

Namun jumlah tersebut diperkirakan sudah makin menipis. Sebab Pemerintah Provinsi Sumatera Utara awal 2009 lalu memperkirakan, setiap hari sedikitnya 500 ha lahan diubah menjadi kebun sawit di kawasan Labuhanbatu, Labuhanbatu Selatan, dan Labuhanbatu Utara sebelum dilakukan pemekaran. (*)

{Tulisan ini dikutip dari Harian Waspada, Edisi Kamis (25/11/2010) Halaman Ekonomi & Bisnis (dengan gubahan)}. Kunjungi www.waspada.co.id

Satu Tanggapan to “Bertahan Di Tengah Himpitan Sawit”

  1. Jufri said

    begitulah nasib petani😦

    andaikan semua warga memiliki ide kreatif seperti yang ada di indonesiakreatif.net Indonesia pasti bakal dikenal dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: