KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Ramai-ramai Berkebun Kelapa Sawit

Posted by Kotapinang pada November 24, 2010

Kebun Sawit

Kebun Sawit

Ramai-ramai Berkebun Kelapa Sawit

Oleh: Deni Syafrizal Daulay

SAUDDIN, 51, terduduk di sebuah gubuk di areal perladangan sawit miliknya di kawasan Benteng, Dusun Teluk Pinang, Desa Asam Jawa, Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Dia baru saja membersihkan piringan sawit di kebunnya. Kini sawitnya itu sudah berusia 13 tahun, sejak dikonversi pada 1997 lalu dari perkebunan karet.

“Beginilah kerjaan sehari-hari. Paling setelah panen dibersihkan pinggiran sawit agar mudah melakukan pemupukan dan memanen saat tandan sawit mulai tua,” kata Sauddin saat ditemui Waspada di areal perladangan miliknya itu, Selasa (18/10).

Bagi ayah empat anak ini, mengalihkan lahan karet jadi perkebunan sawit merupakan pilihan akhir. Sebab banyak kemudahan yang didapatkannya dari berkebun sawit. Dia mengatakan, awal ketertarikannya berkebun sawit yakni tingginya harga sawit pada tahun 1997. Krisi moneter yang mendorong tingginya harga dolar menyebabkan saat itu harga Tandan Buah Segar (TBS) melonjak tajam dari harga Rp200 per kilo gram menjadi Rp1700. “Bahkan lebih, karena katanya membeli sawit itu investor pakai dolar,” kata pria pemilik kulit sawo matang itu.

Tingginya harga tersebut membuat dia dan sejumlah petani karet lainnya di sekitar kawasan itu beralih menanam sawit. Padahal kata dia, dulunya, hampir seluruh lahan di daerah itu adalah perkebunan karet. “Kami dulu di sini semuanya bertanam karet. Lalu karena kebetulan karetnya sudah tua, kami lalu tanami sawit,” katanya.

Selain itu lanjutnya, bertani sawit jauh lebih mudah ketimbang bertanam karet. Sebab sait tak memerlukan perawatan ekstra saat tumbuh besar. Sementara rambung harus terus dijaga. Belum lagi waktu pangerjaannya, karena rambung harus setiap hari disadap untuk mendapatkan getahnya. Setelah getah disadap, setiap sore getah-getah tersebut harus diambil. Jika musim penghujan, mereka tak dapat memanen getahnya, karena getah di dalam penampungan biasanya tercampur air. “Memang kalau karet dua hari sekali sudah bisa dijual,” katanya.

Sementara berkebun sawit, dia tak perlu repot. Setelah sawit layak panen, dia hanya perlu menjaga agar areal perkebunan bersih. Waktu panennya pun cukup lama yakni dua minggu sekali. Sedangkan hasilnya tak jauh berbeda. “harga karet memang lebih mahal, tapikan hasilnya sama saja,” katanya.

Sujono warga Blok IX, juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, sejak terjadinya lonjakan harga sawit pada 1997, tak pernah terjadi fluktuasi harga yang signifikan. Bahkan meski harga sawit turun masih berkisar Rp 800 hingga Rp 1000 per kilo gramnya. “Harga itu sudah cukup tinggi. Bahkan sekarang harganya lebih tinggi,” kata ayah dari tiga orang anak itu.

Tergiur dengan harga tersebut, dia dan petani lainnya mengubah lahan karet miliknya di kawasan tersebut menjadi kebun sawit. Padahal tak jauh dari tempat tinggal mereka terdapat pabrik pengolahan karet milik PT London Sumatera (Lonsum) yakni Kebun Rumbia Estate. “Dulu kami bertanam karet, namun mengerjakannya repot. Kita harus menyadap tiap hari, kan capek,” katanya.

Hal senada diakui Mukhlis Ritonga warga Desa Padangri, Kecamatan Sungai Kanan. Menurutnya, sejak harga sawit tinggi, petani di daerah itu mengkonversi lahannya menjadi perkebunan sawit. Padahal dulunya hampir seluruh kawasan itu perkebunan karet dan sebagiannya persawahan

Selain alasan harga kata dia, pada saat akan melakukan penanaman kembali, mereka mendapatkan informasi kalau bekas perkebunan karet tak boleh ditanami lagi karet. Sebab sisa-sisa pohon karet tersebut berubah menjadi racun bagi karet yang akan ditanam. “Makanya setelah dipikir-pikir kami beralih ke kebun sawit,” katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2008 tercatat sedikitnya terdapat 35.534 hektare kebun sawit di empat kecamatan belum termasuk Kecamatan kampung Rakyat, dengan hasil produksi rata-rata mencapai 30.665.275 ton. Sedangkan areal persawahan dan pertanian lain sekitar 1.495 hektare dengan hasil produksi 1.376.175 ton. Di antara perkebunan tersebut masih ada sejumlah perkebunan lain milik masyarakat seperti karet, kakao dan lainnya. (*)

Tulisan dikutip dari Surat Kabar Harian Waspada, Edisi Selasa 23November 2010 halaman Ekonomi dan Bisnis (Dengan Gubahan) Kunjungi website Waspada di www.waspada.co.id

8 Tanggapan to “Ramai-ramai Berkebun Kelapa Sawit”

  1. OASEGURU said

    Apakah nantinya makanan pokok rakyat berubah dari nasi menjadi kelapa sawit?

  2. Irmadah said

    memang sih sawit lebih mahal dan praktis.
    tapi cb byangkan,,,
    kalo 15 tahun kedepan Labusel ini ditanami sawit terus
    bisa-bisa Labusel jadi daerah yang kering, kekurangan air
    dan kemana-mana harus beli air,,,
    weleh weleh,,,, :|]

    lagian saya tak banggalah dengan kebun sawit di Labusel,,,,
    karena kebun sawitnya sebagian besar milik orang luar, dan warga asli Kotapinang yang banyak menjadi tukang dodosnya.

  3. taufik40 said

    kamu yg punya kebun sawit tuh baya…awak tak punya baya…:(

  4. Coba said

    Aku harus jadi pengusaha kelapa sawit!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: