KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Tradisi Meriam Bambu di Kotapinang Meriahkan Ramadhan

Posted by Kotapinang pada Agustus 29, 2010

Meriam bambu

Meriam bambu

Tradisi Meriam Bambu di Kotapinang Meriahkan Ramadhan
Oleh: Deni Syafrizal Daulay

SATU lagi tradisi khas Ramadhan di Kotapinang yang kini telah ditinggalkan yakni perang meriam bambu. Biasanya sepekan puasa Ramdhan, letusan meriam bambu yang bertalu- talu, menggemakan puasa. letusan meriam bambu itu dilakukan oleh anak-anak remaja diberbagai desa dan perkampungan di Kecamatan Kotapinang, sebagai upaya untuk memeriahkan bulan suci Ramadhan.

Meriam bambu ini adalah tradisi setiap tahun yang diletuskan sepekan setelah puasa dimulai. Letusan bambu ini diperdengarkan mulai dari pagi hari hingga pertengahan malam. Meriam bambu itu bertubi-tubi dilancarkan dengan bunyi yang menggemparkan, dimana anak-anak seakan-akan berperang dengan desa tetangganya. Apabila desa mereka yang paling keras bunyinya maka desanyalah yang jadi juaranya.
Sesuai namanya, meriam sederhana tersebut terbuat dari batang bambu. Biasanya panjang bambu yang digunakan adalah tiga sampai empat ruas, sebab terlalu panjang meriamnya tak akan menghasilkan suara yang menggelegar. Bambu-bambu itu diperoleh dari bantaran Sungai Barumun dan Simarkaluang. Biasanya sepekan sebelum Ramadhan, anak-anak Kotapinang sudah sibuk berburu bambu untuk membuat meriam.
Setelah bambu didapat, barulah kemudian dijadikan meriam. Pembuatannya pun sederhana. Bambu tersebut dijebol tangkulnya menggunakan kayu, namun di tangkul paling bawah dibiarkan tetap tertutup. Setelah itu, sejengkal dari bambu yang masih tertutup tangkul diberi lubang kecil.
Untuk dapat menggunakan meriam ini, bambu tersebut terlebih dahulu diisi minyak tanah secukupnya. Untuk menyulut api ke lubang bambu, biasanya digunakan ranting kering agar mudah terbakar. Sebelum digunakan, meriam tersebut terlebih dahulu dipanaskan atau istilahnya dipancing. Nah sekarang meriam sudah dapat digunakan. Untuk memperderas suara letusan meriam, biasanya digunakan bahan tambahan yakni tepung karbit. Namun kedua ujung bambu harus diikat dengan kawat agar tidak pecah.
Namun kini tradisi ini pun telah ditinggalkan. Sebab selain mencari bambu saat ini cukup sulit, banyak awarga yang marah khususnya ibu-ibu jika anak-anak bermain meriam bambu, sebab suaranya yang memekakkan telinga sering meresahkan warga. Kini tradisi meriam bambu hanya tinggal seberkas sejarah usang tradisi Ramadhan di Kotapinang. (*)

7 Tanggapan to “Tradisi Meriam Bambu di Kotapinang Meriahkan Ramadhan”

  1. Meriam Bambu sudah Mulai Ditinggalkan, ada beberapa penyebab antara lain adalah karena Bambu sudah semakin sulit ditemukan dan minyak lampu sebagai bahan pemanasnya sudah mahal dan langka, kini anak-anak modern kotapinang sudah beralih ke kembang api atau mercon yang harganya juga selangit

    • kotapinang said

      Benar bro! Tapi sebenarnya alasan anak Kotapinang meninggalkan tradisi meriam bambu karena tradisi itu dinilai norak! Ditambah kondisi ekonomi masyarakat Kotapinang yang lebih baik! Thx atas komennya friend!

  2. rahmad susilo said

    klau cerita masalah meriam bambu aq jd ingat waktu itu kelas 3 sd…mukaku gosong kena mercon bambu…ngak pernah lagi kudengar suara itu da…..yang kangenan aq dongarnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: