KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Kota Cina di Kotapinang, Labuhanbatu Selatan

Posted by Kotapinang pada Agustus 28, 2010

Kota Tua di Kotapinang, Labuhanbatu selatan

Kota Tua di Kotapinang, Labuhanbatu selatan

Kota Cina di Kotapinang, Labuhanbatu Selatan
Oleh: Deni Syafrizal Daulay
SELAIN objek wisata alam, di Kotapinang juga memiliki arsitektur tempo dulu yang masih utuh sampai saat ini yakni bangunan pertokoan tua milik etnis Tionghoa yang berderet di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.

Kombinasi sisa-sisa bangunan kuno peninggalan Belanda yang dijumpai di kawasan ini, dengan bangunan “modern” yang desainnya hanya berkelas “ruko”, memperlihatkan perkawinan yang cukup aneh.
Menurut Hj Tengku Aznah, kawasan yang kini diberi nama Jalan Jendral Sudirman ini dulunya adalah sebuah kampung tempat persinggahan para pedagang yang datang untuk berdagang. Semua kegiatan dilakukan di sana.
Sementara di dataran ini, merupakan tempat warga menukar hasil taninya. Saat mereka akan menukar hasil hutannya untuk dibawa ke daerah lain melalui Sungai Barumun, mereka pun harus melalui daerah itu.
Seiring waktu, berbagai etnik pun menyebar memanfaatkan wilayah ini sebagai kawasan bisnis. Termasuk di antaranya adalah etnik Tionghoa yang memiliki sejarah tersendiri memasuki wilayah Kotapinang.
Menurut sejarah, pelopor masuknya etnik Tionghoa ini, adalah seorang petinggi Belanda bernama Neinhuys yang merupakan orang pertama yang membuka perkebunan di Medan pada 1864. Sejak itulah etnik Tionghoa masuk sebagai buruh dan perlahan-lahan diberi hak berdagang oleh Belanda bila kontrak kerja mereka telah habis.
Meskipun dulunya para etnik Tionghoa ini adalah kuli kontrak, namun mereka memutuskan untuk memperpanjang kontraknya sebagai pekerja kasar di perkebunan. Mereka juga meminta setapak tanah kepada Belanda untuk membuka kios atau warung. Kondisi itupun bertahan hingga saat ini. Sejumlah etnis Tionghoa masih menempati dan menjadikan ruko-ruko tua tersebut sebagai tempat usahanya. Keberadaan etnis Tionghoa di Kotapinang cukup erat, hal ini dibuktikan dengan adanya pemakaman khusus Tionghoa di Jl Kampung Kristen.
Selain itu, di Kotapinang juga terdapat dua rumah peribadatan masyarakat Tionghoa yakni Vihara Avalokitesvara di Jl Pelabuhan Lama dan Vihara Maitreya di Jl Kampung Banjar II.
Sedikitnya terdapat 20-an bangunan toko tua yang masih awet dan berdiri kokoh di Kotapinang. Sampai saat ini sejumlah toko tua tersebut masih utuh seperti sedia kala, meski beberapa toko sudah diubah oleh pemiliknya. Keunikan bangunan toko-toko tersebut jadi pemandangan tersendiri tentunya bagi pencinta arsitektur kuno. (*)

2 Tanggapan to “Kota Cina di Kotapinang, Labuhanbatu Selatan”

  1. Fay Aza said

    boleh nanya gak bang….
    kira2… kapan orang tionghoa masuk ke kota pinang

    di tunggu balasannya….

    • Kotapinang said

      @Fay: Tidak ada catatan resmi tentang kehadiran bangsa Cina ke Labusel, namun sejak tahun 1800-an bangsa Cina dipercaya telah berada di Labusel, hal ini dilihat dr sejumlah momen dan peninggalan yang sempat diabadikan.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: