KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Masjid Raya Kotapinang Religius dan Prestisius Bangsa Melayu di Kotapinang

Posted by Kotapinang pada Agustus 18, 2010

Masjid Raya Kotapinang

Masjid Raya Kotapinang Religius dan Prestisius Bangsa Melayu di Kotapinang
Oleh: Deni Syafrizal Daulay

KABUPATEN Labuhanbatu Selatan memiliki cukup banyak potensi pariwisata yang mempunyai daya tarik potensial khususnya wisata sejarah. Salah satunya bangunan religius peninggalan Kesultanan Kotapinang, yakni Masjid Besar Kotapinang.

 
Sebagai peninggalan sejarah, masjid ini memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Labusel khususnya Kecamatan Kotapinang. Dalam perjalanannya, masjid ini tidak hanya sebagai pusat peribadatan umat Islam di daerah ini, lebih dari itu Masjid Besar menjadi simbol religius dan prestisius masyarakat Labusel.
Masjid Besar Kotapinang terletak di Jalan Masjid Raya, Kel. Kotapinang, Kec. Kotapinang. Masjid ini hanya berjarak sekira 200-an meter dari lokasi Istana Kota Bahran di Jalan Istana. Bagi warga Labusel, masjid ini lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya. Dahulunya, masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Raja. Nama masjid ini diubah menjadi Masjid Besar sekira enam tahun silam.
Masjid Besar Kotapinang merupakan masjid tertua di Labusel. Masjid ini memiliki nilai historis yang sangat penting bagi perkembangan Islam di daerah ini, tepatnya pada masa Kesultanan Kotapinang. Masjid ini memiliki keistimewaan berupa arsitektur khas ala Nusantara.
Tidak ada catatan resmi mengenai sejarah berdirinya Masjid Besar, namun diperkirakan masjid ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Mustafa Alamsyah XII pada tahun 1800-an sebelum istana Kota Bahran di Jalan Istana didirikan. Saat itu Kesultanan Kotapinang yang bertahta di Jalan Bukit mulai mencapai kejayaannnya. “Masjid Raya dibangun pada saat Sultan Mustafa beristana di Bukit atau yang saat ini dikenal dengan lapangan MHB,” kata T. Idrus Mustafa als Aizuz Thafa Hamid yang merupakan ahli waris alm. Sultan Mustafa yang ditemui di Rantauparapat, Jumat (22/3) lalu.
Aizuz mengatakan, Sultan memang sengaja membangung masjid kerajaan ini dengan megah. Karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri. Di masjid ini pula Sultan dapat berinteraksi dengan masyarakat luas, karena sejak dibangun masjid ini terbuka untuk umum. “Sejak dulu Masjid Raya terbuka untuk masyarakat luas sebagai tempat ibadah dan pengkajian tentang Islam,” kata pensiunan salah satu perusahaan perkebunan BUMN itu.
Bangunan Masjid Besar terbagi atas ruang utama dan teras serta bangunan tempat wudhu yang terpisah dari bangunan induk. Ruang utama tempat salat, berbentuk prisma. Jika di lihat dari desain atapnya, gedung ini akan terlihat seperti burung layang-layang yang sedang terbang dari atas. Pada sisi kiblat terdapat serambi kecil yang menjorok keluar. Dari bagian belakang hingga sisi Selatan dan Utara masjid terdapat teras.
Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca. Berbeda dari kebanyakan masjid lainnya, Masjid Besar ini awalnya tidak memiliki banyak ornamen. Namun dalam beberapa tahun belakangan, oleh pengurus masjid kemudian masjid ini dihiasi berbagai ukiran dan kaligrafi di bagian dindingnya.
Dahulunya, di tengah-tengah masjid terdapat tangga yang digunakan sebagai jalan menuju kentungan di bagian atas atau kubah masjid. Kentungan tersebut digunakan untuk memberikan tanda masuknya waktu salat agar terdengar ke seluruh penjuru Kotapinang. Hal itu dilakukan karena pada masa itu belum ada alat pengeras suara. Kalaupun ada, aliran listrik juga belum tersedia. Setelah kentungan ditabuh, baru kemudian azan dikumandangkan.
Melihat masjid ini akan mengingatkan kita pada desain bangunan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dengan bentuk kubah patah-patah bersegi. Masjid Besar Kotapinang didesain menampung 200-an jamaah. Selain ibadah salat lima waktu, masjid ini juga sering digunakan untuk melaksanakan salat I’ed dan hari besar Islam lainnya. “Sejak dibangun masjid ini bentuknya tidak pernah diubah meski sudah dipugar. Hanya saja bagian jendela sudah berganti kaca, dulunya seluruh jendela masjid terbuat dari kayu,” kata Chendri Ahmad, 66 warga Jalan Kalapane.
Menurutnya, dulunya usai salat hari raya Idul Fitri, Sultan Mustafa kerap membagi-bagikan uang kepada warga di tempat itu. Selain pelaksanaan hari besar keagamaan, Masjid Besar kerap digunakan untuk melakukan kajian-kajian Islam. “Sebelum revolusi saya sudah sering ke Masjid Besar, kami sering berebut uang saat Idul Fitri,” kata Chendri. Bagunan Masjid Besar Kotapinang memiliki kemiripan dengan Masjid Raya Rantauprapat, Masjid Kualuh Hulu, dan sebuah Masjid di daerah pesisir pantai Labuhan Bilik. Tidak jelas apakah pembangunan ke empat masjid ini memiliki keterkaitan.
(*)

2 Tanggapan to “Masjid Raya Kotapinang Religius dan Prestisius Bangsa Melayu di Kotapinang”

  1. erik said

    titip salam ma ustad sofyan alwi

    semoga makin banyak jamaah sholat nya…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: