KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Masa Penjajahan Belanda di Kotapinang

Posted by Kotapinang pada Agustus 18, 2010

Kotapinang, Labuhanbatu Selatan

Foto Kotapinang, Labuhanbatu Selatan

Masa Penjajahan Belanda di Kotapinang
Oleh: Deni Syafrizal Daulay

KEDATANGAN Belanda tahun 1596 pada awalnya bertujuan untuk berdagang sambil mencari rempah-rempah. Namun lambat laun Belanda mulai berniat untuk menguasai wilayah Indonesia karena Indonesia penuh dengan kekayaan alam.


Pada tahun 1824, Belanda dan Inggris menandatangani perjanjian yang disebut dengan Traktat London. Tujuan dari perjanjian ini adalah untuk menghindari pertikaian antara Inggris dengan Belanda mengenai daerah jajahan mereka di sekitar Selat Malaka. Inti dari perjanjian ini adalah pertukaran daerah jajahan antara belanda dengan Inggris, yaitu Inggris menyerahkan Bengkulen pada Belanda dan Belanda Menyerahkan Melaka pada Inggris dan Singapura tidak dituntut lagi.
Kemudian mereka berjanji tidak akan meluaskan daerah jajahannya ke daerah yang bukan haknya sesuai dengan isi perjanjian tersebut yakni Inggris tidak akan mengganggu Sumatera dan Belanda tidak akan mengganggu Semenanjung Melayu. Keduanya juga berjanji tidak akan melanggar kedaulatan Aceh.
Walau perjanjian sudah ada, namun karena pertimbangan keuntungan ekonomi, maka masing-masing pihak masih terus meluaskan daerahnya secara diam-diam. Inggris masih selalu mengincar Sumatera demikian juga Belanda belum melepaskan tekanannya di Perak dan Selangor.
Untuk dapat menguasai daerah Sumatera Timur maka Belanda harus dapat menguasai kerajaan Siak, karena menurut Sultan Siak seluruh Sumatera Timur adalah daerah jajahannya. Pada tahun1857, Wilson seorang petualang Inggris ingin menguasai kerajaan Siak maka Sultan Siak minta bantuan kepada Belanda yang berpusat di Batavia.
Ketika Belanda dapat menguasai petualang Inggris tersebut maka Belanda sudah mulai meminta imbalan jasa dengan mengikat perjanjian dengannya pada tanggal 1 Februari 1858. Perjanjian itu disebut juga dengan Traktat Siak yang berisikan kesediaan Sultan Siak untuk tunduk di bawah kekuasaan Belanda. Dengan tekanan Belanda, Siak mengakui bagian dari Hindia Belanda dan tunduk di bawah Kedaulatan Agung Belanda.
Dalam perjanjian itu juga dinyatakan bahwa jajahan dan daerah taklukan Siak seperti kerajaan Melayu Sumatera Timur dimasukkan di bawah lindungan pemerintah Hindia Belanda. Selain itu Siak memohon pula bantuan Belanda untuk mempertahankan daerahnya dari serangan musuh Siak.
Atas alasan inilah maka Belanda ekspedisi nya untuk mengakhiri kemerdekaan kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur. Disamping mempengaruhi para penguasa lokal, pemerintah kolonial Belanda juga mengadakan semacam intimidasi dengan mendatangkan kapal perang Reiner Classon yang Setelah Belanda menandatangani Traktat London pada tahun 1824, Belanda sudah berhak meluaskan kekuasaannya di Sumatera Timur kecuali Aceh, namun perluasan wilayah itu tidak dapat dilaksanakan karena Belanda belum mendapat alasan yang kuat untuk mengakhiri kemerdekaan raja-raja di Sumatera Timur. Disamping itu masih banyak faktor yang menghambat perluasan jajahannya ke Sumatera Timur seperti takut akan terulang lagi pengalaman pahit yang dihadapi ketika perang Diponegoro. Sedangkan pada waktu itu Belanda masih perang dengan Paderi.
Untuk merealisasikan amanah dari Sultan Siak ini maka pada tahun 1862 datanglah ekspedisi Belanda yang pertama ke Sumatera Timur yang dipimpin oleh Residen Riau Elisa Netscher. Dalam kunjungan Netscher tersebut, satu persatu kerajaan di Sumatera Timur membuat suatu perjanjian dengan Belanda secara paksa yaitu dengan mempropagandakan Kerajaan Siak. Setelah Netscher memperoleh tandatangan dari Kerajaan Panai dan Bilah maka ia melanjutkan perjalanannya menuju Asahan, Deli, Serdang dan Langkat. Tujuan dari perjanjian yang telah ditandatangani oleh Sultan ini adalah pengakuan raja-raja di Sumatera Timur terhadap kekuasaan Belanda atas daerahnya.dipimpin oleh Residen Netscher yang mendarat di Pantai Sumatera. Adapun maksud didatangkannya kapal tersebut adalah agar penguasa di Sumatera menjadi takut. Ancaman dan gertakan ini pada mulanya mendapat jawaban protes dari penguasa daerah di Sumatera Timur akan tetapi pada akhirnya penguasa-penguasa daerah tersebut
seperti Sultan Asahan, Sultan Serdang, dan Sultan Langkat akhirnya tunduk kepada pemerintah kolonial Belanda.
Melalui Convernemen Belsuit No. 2. 1867 tanggal 30 November 1867, Belanda membentuk Afdeling yang terdiri dari:
1. Onder Afdeling Batu Bara ibukotanya Labuhan Ruku
2. Onder Afdeling Asahan ibukotanya Tanjung Balai
3. Onder Afdeling Labuhanbatu ibukotanya Labuhanbatu
Pembentukan afdeling ini merupakan suatu taktik dari Belanda untuk dapat mengikat kerjasama dengan berbagai kerajaan tradisional yang berada dalam lingkungan afdeling dengan cara penandatanganan Korte Verklaaring dan Lange Verklaaring.
Kesultanan Kotapinang dan Kesultanan Kualuh menandatangani Lange Verklaaring
sehingga kedua Kesultanan ini menjadi perantara Belanda untuk mengutip pajak dari
onderdeming-onderdeming atau perkebunan-perkebunan di wilayah tersebut.
Sebelum mengadakan perjanjian dengan raja-raja yang mempunyai daerah taklukan yang luas, Belanda terlebih dahulu menanamkan kesan psikologis dan menunjukkan keunggulan tempur dengan peralatan militer dan memperkenalkan hukum yang berlaku di Eropa. Sehingga para raja mendapat kesan bahwa Belanda bisa dijadikan sebagai pelindung terhadap raja-raja kecil di sekeliling raja yang luas daerah taklukannya tadi. Dengan demikian mereka harus tunduk kepada pemerintah Belanda di Nederland yang diwakili oleh Gubernur Jenderal di Batavia.
Gubernur Jenderal yang berkedudukan di Batavia menguasai seluruh Nusantara mulai dari Sabang sampai Merauke. Gubernur Jenderal dibantu oleh para residen yang bertempat tinggal di daerah-daerah. Residen dibantu oleh para asisten residen yang semuanya adalah orang-orang Belanda.
Wilayah Labuhanbatu sebagai bagian dari daerah Sumatera timur sangat menarik bagi kolonialisme baik ditinjau dari segi militer maupun dari segi ekonomi. Kawasan ini letaknya sangat strategis dekat dari Semenanjung Malaka dan ramai dilintasi melalui
selat Malaka. Disamping itu juga, Labuhanbatu memiliki tanah yang subur sehingga menghasilkan kekayaan alam yang melimpah. Hasil bumi Labuhanbatu sebelum Belanda memasuki daerah ini antara lain rotan, damar, pinang, kopra, kopi dan hasil laut.

Potensi alam inilah yang telah mendorong kedatangan pengusaha Belanda menanamkan modalnya di daerah ini dan sekaligus menguasainya. Setelah Belanda berhasil menguasai Asahan dan Batu Bara maka daerah lainnya pun di Labuhanbatu mengalami ancaman penaklukan Belanda. Kedatangan Belanda di daerah Labuhanbatu telah membawa dampak yang negatif, karena kedatangan Belanda tersebut telah memperuncing perselisihan yang ada di antara raja-raja yang lemah dengan raja-raja yang kuat. Hal ini pulalah yang menyebabkan Kesultanan Kotapinang jatuh ke dalam kekuasaan penjajah Belanda. Hubungan keluarga antara Kesultanan Kotapinang dengan Kesultanan Panai telah terjalin ketika raja Panai Sultan Mangedar Alam menikahi adik perempuan Sultan Bungsu, Sultan Kotapinang. Karenanya dia sering mengingatkan saudaranya itu bahwa musuh sesungguhnya adalah Belanda.
Namun Sultan Kotapinang tetap pada pendiriannya yaitu pro kepada Belanda dengan ambisi pribadi sebagai feudal yang berkepentingan langsung atas semua sumber ekonomi termasuk hasil-hasil pemerasan tenaga rakyat dan perdagangan budak yang tanpa disadari oleh Sultan Kotapinang bahwa ia telah dimanfaatkan oleh Belanda untuk kepentingan kolonial Belanda di Kotapinang.
Oleh sebab itu maka timbullah perselisihan antara Sultan Kotapinang dengan Sultan Panai yang mengakibatkan tewasnya Sultan Bungsu. Ini menimbulkan dendam Tengku Mustafa, Sultan Kotapinang yang menggantikan ayahnya. Ia juga meneruskan politik ayahnya yaitu sikap pro Belanda. Oleh karena Sultan Mustafa merasa belum cukup kuat dengan tentaranya sendiri menaklukkan sultan Mangedar Alam dari Panai, maka Sultan Mustafa meminta bantuan Belanda untuk mengalahkan Sultan Panai. Dengan bantuan Belanda maka Sultan Mustafa dapat mengusir Sultan Mangedar Alam dari tempat kedudukannya hingga terpaksa lari ke Asahan. Lalu Belanda mendirikan pos militer nya di Panai.
Berbekal dukungan yang didapatkan oleh Sultan Mustafa dari Belanda maka ia berkesempatan memperteguh posisinya dan melebarkan daerahnya. Tidak lama setelah Belanda mengosongkan pos militernya di Panai, maka Sultan Mangedar Alam, Sultan
Panai, kembali ke istananya dengan tujuan agar dapat mengambil kembali wilayahnya yang sudah dikuasai oleh Sultan Kotapinang. Setelah Sultan Mustafa mengetahui hal tersebut, maka Sultan Mustafa kembali menyerang Sultan Mangedar Alam dan berhasil memukul mundur Sultan Mangedar Alam hingga lari kembali ke Asahan untuk yang kedua kalinya.
Melihat situasi yang demikian, permusuhan dan perebutan wilayah yang dilakukan oleh Sultan Mustafa dengan Sultan Mangedar Alam, maka Sultan Asahan bertindak sebagai juru damai antara Sultan Mustafa dan Sultan Mangedar Alam tersebut sehingga mencapai jalan tengah. Sultan Kotapinang mendapatkan wilayah yang didudukinya dan sebagai juru damai Asahan mendapatkan upah yaitu sebagian wilayah Panai.
Kotapinang dan Belanda menjalin hubungan baik dan kerjasama yang saling menguntungkan antara Sultan dengan Belanda, dimana Sultan memberikan hasil bumi Kotapinang dan daerah-daerah taklukan Kotapinang kepada Belanda dan sebaliknya Belanda memberikan perlindungan pada Kotapinang dari serangan musuh-musuh Kotapinang. Sikap pro Sultan kepada Belanda ditunjukkan dengan menaikkan bendera Belanda di depan istananya dan menggantungkan foto Raja Willem III dan permaisurinya Emma di tengah-tengah dinding istana. Raja Kotapinang juga telah memperoleh tanda mata berupa tongkat perak yang di hulunya lambang kerajaan Nederland “Je Maintendrai” dan dihadiahi cap mohor “Alwasiku Billah, Yang Dipertuan Besar Kota Pinang karunia Raja Nederland”.
Menjelang penutupan tahun 1941 tepatnya pada tanggal 8 Desember, bangsa Jepang menampakkan diri di mata dunia. Hal tersebut dikarenakan kemenangan bangsa Jepang Pada tahun 1887 Sumatera Timur menjadi satu Residensi yang berpusat di Medan dan terbagi atas beberapa afdeling. Salah satu afdeling itu adalah afdeling Labuhanbatu yang berpusat di Rantauprapat yang sebelumnya di Labuhan Bilik. Perpindahan pusat afdeling Labuhanbatu maka semakin baik pula birokrasi Belanda di wilayah Labuhanbatu karena secara tidak langsung Belanda sudah dapat lebih baik mengawasi kerajaan-kerajaan yang di pedalaman. Peranan pemerintah Belanda bukan saja memonopoli perdagangan tetapi juga sudah menguasai Kesultanan Kotapinang secara politis.
Pada masa pertumbuhannya hingga sebelum masuknya pengaruh Belanda di Kesultanan Kotapinang, rakyatnya aman, tertib dan teratur. Sultan masih memperhatikan rakyatnya, misalnya dengan memberikan bantuan kepada rakyat berupa pemberian kupon kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan. Kupon tersebut digunakan untuk penjualan karet dari kebun karet rakyat. Pada saat itu hasil produksi karet di pasaran internasional melimpah sehingga karet mengalami penurunan harga yang drastis sehingga Sultan membuat kebijakan berupa pembagian kupon kepada setiap pemilik karet agar penjualan karet terkontrol dan harga karet tetap stabil sehingga rakyat tidak dirugikan karena harga karet yang murah. Setiap satu kupon diberikan ketentuan untuk menjual karet pada porsi atau ukuran tertentu yang telah ditentukan oleh Sultan. Sehingga mereka hanya dapat menjual karet sesuai dengan kupon yang mereka miliki.
Sebelum kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia, di Labuhanbatu terdapat beberapa kerajaan yang besar maupun kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan yang tergolong besar terdiri dari Kerajaan Bilah, Kerajaan Panai dan Kesultanan Kotapinang. Kerajaan kecilnya tergabung dalam beberapa konfederasi, berdasarkan konfederasi tersebut kerajaan-kerajaan kecil dapat dikelompokkan ke dalam kekuasaan kerajaan Na IX-X, kerajaan Natolu dan kerajaan Nalapan. (*)

NB: Sumber kutipan
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16567/5/Chapter%20I.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: