KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Kesultanan Kotapinang

Posted by Kotapinang pada Agustus 18, 2010

 

Istana Kota Bahran

Reruntuhan Istana Kota Bahran di Kotapinang

Kesultanan Kotapinang
Oleh: Deni Syafrizal Daulay

DALAM perjalanannya, di Kotapinang kemudian berdiri satu kerajaan (Kesultanan Kotapinang) seiring berdirinya kesultanan lain di Sumatera Timur yakni, Kesultanan Deli berkedudukan di Medan, Kesultanan Langkat berkedudukan di Tanjung Pura, Kesultanan Asahan berkedudukan di Tanjung Balai, Kesultanan Serdang berkedudukan di Perbaungan, Kesultanan Kualuh berkedudukan di Kampung Masjid, Kesultanan Bilah berkedudukan di Negeri Lama, Kesultanan Panai berkedudukan di Labuhan Bilik.

Pada masa kejayaan melayu di Sumatera Timur, Kesultanan Kotapinang merupakan satu di antara kesultanan terkaya. Bahkan kekayaannya melebihi Kesultanan Deli. Dalam memebasarkan daerahnya, Kesultanan Kotapinang hidup dari bertani yakni pertanian nenas dan karet.
Perkebunan nenas dulunya banyak terdapat di Kotapinang hingga ke Sisumut. Sedangkan perkebunan karet menyebar mulai dari Rumbia, Nagodang, Normark, dan Teluk Panji. Hasil alam ini juga yang membuat Kotapinang kala itu jadi daerah makmur. Hampir setiap kawasannya merupakan areal perkebunan yang menghasilkan harta untuk kesultanan. Selain karet dan nenas, kekayaan lainnya juga banyak ditemukan seperti getah damar, rotan dan tentunya pinang.
Sebagai simbol kesultanan, kala itu Kesultanan Kotapinang juga memiliki isatana cantik dan megah bergelar Istana Kota Bahran. Istana merupakan tempat tinggal sultan. Di sekitar istana berdiri perkampungan yang juga diperuntukkan sebagai tempat tinggal petugas kesultanan dan keturunan sultan.
Kesultanan Kotapinang pada mulanya bernama Kesultanan Pinang Awan. Sultan yang pertama memerintah adalah Sultan Batara Sinombah yang disebut juga dengan Sultan
Batara Guru Gorga Pinayungan, yang memiliki makam di Hotang Mumuk Negeri Pinang Awan. Sultan Batara Sinombah merupakan keturunan dari alam Minang Kabau Negeri Pagaruyung yang bernama Sultan Alamsyah Syaifuddin.
Sultan Batara Sinombah bersama saudaranya Batara Payung beserta saudara tirinya perempuan Putri Lenggani meninggalkan Negeri Pagaruyung pergi ke daerah Mandailing. Dalam perjalanannya, Batara Payung memutuskan untuk tinggal di Mandailing dan menjadi asal-usul raja-raja di daerah itu. Sedangkan Batara Sinombah dan Puteri Lenggani meneruskan perjalanannya sampai ke Hotang Mumuk (Pinang Awan).
Keturunan Batara Sinombah dari putranya Mangkuto alam merupakan asal-usul dari beberapa kerajaan yang terdapat di daerah Labuhanbatu seperti Raja Indra yang tertua
menetap di Kambul (Bilah Hulu) dan keturunannya menjadi raja-raja Panai dan Bilah. Sedangkan yang nomor dua Raja Segar menetap di Sungai Toras menjadi Zuriat raja Kampung Raja, dan yang termuda Raja Awan menetap di Sungai Tasik menjadi Zuriat raja di Kotapinang.
Yang dipertuan Pagar Ruyung Batara Guru Panjang Batara Sinombah Puteri Lenggani
(Raja Mandailing) (Marhumsin. Batara Guru Gorga (Adik Tiri). Secara turun-temurun dari keturunan Batara Sinombah yang pernah memerintah di Kesultanan Kotapinang, dapat digambarkan sebagai berikut:
Alamsyah Syaifuddin Pinayungan (Pinang Awan)
Sultan Nusa (Marhum Mangkat Dijambu)
Siti Puteh Raja Tahir Maha Raja Hulu Balang
Sultan Syahir Alam Siti Unggu (Kawin Slt.Husisyah Siti Medja (kawin sama Raja (Slt.Edar Alam) (Raja Rantau Binuang) (Glr.Maha Raja dgn Raja Haro) (Glr.Segar Alam) Tdk Menikah Tambusai) Kumbul Awan) Tesik Raja Simargoloang Sel Toras Stn.Kohar (Yg Dipertuan Besar Pinang Awan)
Yang Dipertuan Muda Hotang Mumuk
Sultan.Kumala Marhum Tua (Yang Dipertuan Hadudung Pengali Nama Pinang Awan Menjadi Kotapinang)
Yang Dipertuan Muda Simarkaluang
Sultan Tua Kotapinang
Sultan Muda Kotapinang
Sultan Bungsu Pulau Biromata
Sultan Moestafa GelarYang Dipertuan Besar
Namun pada 17 Agustus 1945 masa kejayaan Kesultanan Kotapinang berakhir. Saat itu seluruh nusantara tergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dipimpin seorang presiden. Bermacam kerajaan masa itu dilebur termasuk Kesultanan Kotapinang.
Awalnya Kesultanan Kotapinang hanya dicabut kekuasaannya oleh negara. Namun pada tahun 1948 terjadi revolusi sosial dan seluruh perangkat kesultanan diserang oleh masyarakat. Tak hanya perangkat kesultanan, bahkan Istana Kota Bahran yang jadi simbol kejayaan Kotapinang juga dihancurkan.
Dikisahkan, kemarahan masyarakat itu disebabkan di Istana Kesultanan Asahan saat itu mengibarkan bendera Belanda. Selain itu, Kesultanan Kotapinang ternyata masih berhubungan erat dengan Belanda yang dibuktikan dengan menaikkan bendera Belanda di depan istananya dan menggantungkan foto Raja Willem III dan permaisurinya Emma di tengah-tengah dinding istana. Raja Kotapinang juga telah memperoleh tanda mata berupa tongkat perak yang di hulunya lambang kerajaan Nederland “Je Maintendrai” dan dihadiahi cap mohor “Alwasiku Billah, Yang Dipertuan Besar Kota Pinang karunia Raja Nederland”. Melihat kenyataan Indonesia yang sudah merdeka, masyarakat kemudian marah dan menyerang.
Karena Kesultanan Kotapinang masih bertalian dengan Kesultanan Asahan, maka Kesultanan Kotapinang pun jadi sasaran kemarahan warga. Saat revolusi itu terjadi, Tengku Mustafa Kamal sudah sakit-sakitan. Pada masa kejayaannya, Sultan Mustafa memiliki enam istri yang berasal dari sejumlah suku yakni Melayu, Jawa, China, Inggris, Belanda, dan Batak (namun informasi ini belum terbukti kebenarannya).
Pada revolusi sosial tersebut, sejumlah kaum kerabat kesultanan ditangkap dan dipenjarakan oleh pemerintah selama lebih kurang enam bulan. Setelah dilepas, sebagian besar keluarga kesultanan yang umumnya mengenyam pendidikan lebih tinggi, dibanding warga lainnya, ditunjuk menjadi guru. (*)

NB: Sumber lain dalam tulisan ini
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16567/5/Chapter%20I.pdf
Tengku Luckman Sinar
Perpustakaan USU
dll…

10 Tanggapan to “Kesultanan Kotapinang”

  1. Daniel said

    Dear friend,

    salam…
    saya ingin bertanya, bagaimana dengan perkebunan karet Normarknya,,
    apakah masih beroperasi perkebunan tersebut dan apakah masih ada sisa -sisa bangunan atau pabrik nya disana?
    soalnya teman ku butuh kepastian bang.
    Btw abang juga bisa menjadi guide lepas berbahasa Indonesia di lokasi, apabila abang mau,
    dari Medan aku sudah sertakan guide, namun kalo di lapangan kan abang yang cari tahu,,

    please responce ya bang
    Salam
    DAniel
    german-division@sedonaholidaysmedan.com

    • Kotapinang said

      Hallo Daniel!!!
      Sampai saat ini perkebunan tersebut masih beroperasi. Namun perusahaan itu tidak punya pabrik. Biasanya buah sawitnya di buang ke Aek Kanopan! Kalau soal guide, aku bisa banbtu nanti untuk perjalanan ke sana. Tinggal cocokkan jadwal saja!

  2. […] masyarakat Labusel khususnya di Kotapinang sebagai menu istimewa para sultan di masa kejayaan Kesultanan Kotapinang di masa […]

  3. ahmad yani said

    dari historis diatas bila dikaitkan dengan simbol dan semboyan Kabupaten Labusel sekarang kayaknya gak nyambung deh…. kok ada gambar udang. apa kaitannya gambar itu. kami sendiri gak pernah lihat udang produk unggulan di kotapinang tapi kalau gambar nanas dan karet ya diterima. karetnya ada nanasnya mana ???? ah kamu ngarang….. tapi ya.,.. sebagai warga labusel gak apalah

    • Kotapinang said

      Hehehe!! Mungkin kamu kurang perhatian sama daerah Labusel sehingga nggak tahu sejarah masa lalu mu. Nanas jadi komoditi unggulan Labusel jaman dulu, bahkan di Sisumut dulunya ada kilang nanas dan kini dijadikan sebagai gudang rongsokan! Kalau soal udang, di sungai Barumun sampai saat ini masih ada Udang Galah! Persoalan itu bukan komoditi unggulan itu hanya persoalan will pemerintah aja. Karena saat ini warga dan pemerintah Labusel lebih tertarik dengan sawit dan karet! Kalau merujuk pada prinsip anda itu mungkin lambang padi dan kapas di tubuh Pancasila pun dah gak cocok lagi karena kapas dan padi udah langka dan bukan komoditi andalan!!!

      • Ugi Taruli said

        hahahahaaha….jadi ingat pasal 33 uud 1945…
        “bumi dan air serta kekayaan alam yg di kandungnya ..di kuasai oleh negara…
        dan diperuntukkan sebesar2nya untuk kemakmuran rakyat”
        sekarang yg kita liahat…kekayaan alam kita siapa yang kuasai mas bro….??

      • Kotapinang said

        @Tarully: Dikuasai Neo Liberalis, Neo Kolonialis, dan Neo Peodalis yang dikaryakan melalui CAPITALIS…. Gusur durjana…… MERDEKA…

      • cucuputribahran said

        Bpk Ugi Taruli,
        Menanggapi pertanyaan Saudara “sekarang yg kita liahat…kekayaan alam kita siapa yang kuasai mas bro….??”

        Jawabannya,
        Dikuasai tukus-tikus rakus pemerintahan pusat dan daerah.

        Jika saudara bangsa Melayu atau Bangsa Batak, saudara pasti ingat tuah ini;
        Ada Raja adat berdiri tiada Raja adat mati,

        Seorang Raja adalah seorang Pengetua Adat, ada Raja adat berdiri-tiada Raja adat mati,
        DARI FALSAFAH INI LAHIRLAH FORMULA USUL ASAL TAMADUN MELAYU.
        1. Pada Raja terdapatnya kekuatan umarak,
        2. Pada Ulamak terdapatnya orang-orang berilmu agama,
        3. Pada Zu’amak terdapatnya kaum cerdik pandai,
        4. Pada Aghni’ak terdapatnya orang-orang pemilik harta,
        5. Pada Fuqarah terdapatnya orang-orang berdoa.

        Coba,
        Bandingkan dgn Presiden, Gubernur, dan Bupati.
        Siapa Presiden di Indonesia yang tidak Amanah ?
        Berapa % Gubernur di Indonesia yang tidak Amanah ?
        Berapa % Bupati di Indonesia yang tidak Amanah ?

        Coba lihat,
        Kemakmuran dan kejayaan Negara2 seperti, Kerajaan Saudi Arabia, Kerajaan Malaysia, dan Kerajaan Brunai Darussalam.

  4. Putri Utama Tambak said

    Seharusnya Istana itu di jadikan Museum Labuhanbatu Selatan……. kan bagus untuk pendidikan biar para generasi muda tau sejarahnya…..

  5. yaa, mengapa istana itu tidak dirawat padahal itu menjadi identitas kotapinang yang memiliki nilai sejarah seperti yang dipulau jawa mereka merawat dan bisa menjadi tempat wisata pendidikan untuk mengetahui sejarah daerahnya. dan jika berkembang semakin baik mungkin bisa menjadi sumber pendapatan daerah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: