KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Cenggok-cengok dan Endeng-endeng Budaya Warga Mandailing di Kotapinang, Labuhanbatu Selatan

Posted by Kotapinang pada Agustus 18, 2010

 

 

Cenggok-cengok dan Endeng-endeng Budaya Warga Mandailing di Kotapinang
Oleh: Deni Syafrizal Daulay

BANYAK hal menarik khususnya menyangkut kebudayaan dan adat sitiadat yang sampai kini masih jadi tradisi bagi sebagian warga Kotapinang, meski belakangan tradisi itu makin jauh tertinggal. Satu di antaranya adalah Cenggok-cenggok dan Endeng-endeng.


Sama dengan kebudayaan di daerah lainnya, Cenggok-cenggok dan Endeng-endeng dapat dikategorikan sebuah perpaduan tarian dan pencak silat. Tradisi ini lazimnya dilakukan masyarakat yang sedang menggelar pesat khitanan (sunat rasul) atau malam pesta perkawinan oleh masyarakat di Kotapinang.
Malam sebelum digelarnya pesta besar, biasanya pemilik hajatan mengundang warga sekampung untuk melakukan kenduri. Kenduri itu biasanya digelar untuk menyampaikan doa-doa dan pujian kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Selain itu, kegiatan tersebut bermaksud untuk menjamu warga sekampung khususnya kaum pria dan orang-orang tua untuk bersantap malam di rumah pemilik hajatan.
Usai bersantap, para tetua biasanya menggelar acara doa dan membacakan Al Barzanji dan wiridan kecil. Selepas itu, pemilik hajatan biasanya mengundang hiburan yakni tarian Endeng-endeng untuk menemani sang pengantin bergadang sampai pagi menjelang digelarnya pesta besar.
Tarian Endeng-endeng ini terbilang sederhana. Perlatannya pun sederhana hanya berbekal gendang kulit lembu. Para pemainnya terdiri dari sejumlah orang tua yang seluruhnya pria. Begitu genderang ditabuh, mereka pun membentuk lingkaran. Syair yang dibawakan umumnya berbentuk pantun dan saling berbalas. Pemilik hajatan menyiapkan bandrek dan kopi untuk para pemain dan warga yang hadir.
Tarian Endeng-endeng sendiri diambil dari satu lagu yang dinyanyikan yakni ‘Endeng-endeng’. Karena asal tarian ini dari daerah Tapanuli, maka seluruh lagu dan pantun yang dinyanyikan pun berbahasa Tapanuli. Biasanya, disaat hiburan ini dimainkan, pengantin diberikan inai. Berikut sepenggal syair Endeng-endeng yang kerap dinyanyikan:
Endeng ni endeng amang, situkkoni dondong…
Aha ma dikonang, sibayo na lomlom!
Sada di tamba sada, inda dibotoho…
Molo inda boru ni raja, inda giot ho!
Di sela-sela nyanyian tersebut, biasanya sejumlah pemain Endeng-endeng melakukan pancak silat mengikuti hentakan gendang yang diiringi seruan-seruan warga yang menyaksikan. Makin larut malam, suara gendang yang ditabuhpun makin kencang. Tak jarang sang pengantin juga diajak berpencak untuk mengusir kegelisahannya menjelang pesat besar perkawinan.
Pertunjukan Endeng-endeng ini baru berakhir setelah azan Subuh berkumandang. Saat itu seluruh pemain Endeng-endeng yang kelelahan tertidur. Dan seluruh warga serta pemilik hajatan pagi itu pun mulai bergegas mempersiapkan pesta yang akan digelar pagi hari hingga malam.
Sampai kini sejumlah warga masih ada yang mempertahankan tradisi ini. Namun kebanyakan warga kini tak lagi menggunakan hiburan Endeng-endeng karena memang pemainnya pun kini sulit ditemukan. Sebab, kemajuan jaman membuat tradisi ini terlupa untuk diregenerasikan kepada turunan berikutnya. (*)

Satu Tanggapan to “Cenggok-cengok dan Endeng-endeng Budaya Warga Mandailing di Kotapinang, Labuhanbatu Selatan”

  1. indah said

    Makasih infonya..
    Boleh minta lirik endeng endeng yg lengkap ga? Atau isi dari lagu endeng endeng itu sendiri?
    Apakah endeng endeng harus dipadukan dengan pencak silat atau boleh hanya dengan tortor saja seperti mangayapi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: