KOTAPINANG

Lebih dari Sekadar Cerita Kotapinang

Berburu Lokan di Sungai Barumun, Kotapinang, Labuhanbatu Selatan

Posted by Kotapinang pada Juli 19, 2010

Sungai Barumun

Sungai Barumun di Kotapinang, Kabupaten Labuhanbatu Selatan

Berburu Lokan di Sungai Barumun

Oleh: Deni Syafrizal Daulay

PASIR Tuntung atau pasir Binjai yang menyembul dari tubuh sungai Barumun disaat musim surut tiba menandai kebiasaan mencari lokan warga Kotapinang khususnya yang bermukim di perkampungan Labuhan. Sore hari, bersama teman-teman dan belasan anak- anak aku biasanya mencari lokan. Sesekali aku pergi bersama ayah ku usai memancing, kami langsung menceburkan diri ke air untuk mencari lokan.

Lokan adalah binatang sejenis kerang yang hidup di sungai. Kerang bivalvia ini berbentuk pipih dan besar berwarna hijau kehitaman atau cokelat keputihan. Kepah rasanya sangat lezat disantap ketika sudah dibumbui. Cukup direbus saja bersama bumbu-bumbu maka cita rasa dagingnya tak akan terlupakan sampai kemanapun kita pergi.

Lokan yang dikenal warga Kotapinang biasanya muncul ketika air sangat surut. Pasir sungai Barumun menjelma menjadi pulau di tengah Barumun. Pasirnya putih, layaknya pasir di pantai yang megandung sedikit unsur besi. Pasir berwarna kehitaman berkilauan diterpa hangat mentari sore hari.

Pasir Tuntung ini menyimpan seribu cerita dari masa ke masa. Tentang ratusan penyu yang pernah menjadikan tempat ini sebagai singgasana bertelurnya, penat yang dilepaskan oleh anak-anak Kotapinang, indahnya kebersamaan, anak-anak yang berlarian di atasnya, perburuan lokan yang memikat hati, sampan di air yang dangkal, kapal besar yang kesusahan mencari kedalaman air, mentari yang tak wajar, pusaran yang mematikan, dan tentang yang lain yang tak sempat terceritakan.

Saat ini tak ada lagi keramaian anak-anak yang mencari lokan di pasir Tuntung. Ketika musim surut tiba, tempat ini hanya jadi arena bermain bola. Yang tetap setia hanyalah anak-anak yang bercebur ke sungai usai bermandi keringat berkejaran di atas pasir.

Di atas pasir tak ada suara lain selain suara kami dan alam. Nyaman sekali di atas sini. Sesekali gelombang kecil menerpa pasir bila kapal besar yang terseok-seok melintas di sampingnya.

Kami tanpa takut berlarian sesukanya. Kemudian terjun dari atas sampan. Menghilang sebentar untuk kemudian muncul lagi bersama seekor lokan. Air tampaknya sudah melebur sampai dalam sanubari kami.

Sampai kapan budaya mencari lokan ini akan berlangsung? Semuanya tergantung kepada seberapa besar masyarakat Kotapinang khususnya Labuhan mampu menyaring unsur luar yang masuk ke dalam sistem. Dari apa yang aku rasakan selama ini, sangat disayangkan jika kebiasaan-kebiasaan ini hilang tanpa jejak. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: